Wagub NTT Sisir Dapur MBG, Warning Keras Tata Kelola Hingga Bakar Nyali Pelajar TTU
KEFAMENANU, PENA INDONESIA – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, melakukan inspeksi mendadak sekaligus peninjauan taktis ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kefamenanu Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (21/5). Langkah ini diambil guna mengawal ketat realisasi program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) agar langsung menyasar target tanpa hambatan birokrasi di lapangan.
Didampingi Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT, Selfi Nange, kedatangan orang nomor dua di NTT ini disambut langsung oleh Wakil Bupati TTU Kamilus Elu, Camat Kota Kefamenanu Melki Kono, serta Kepala SPPG Kefamenanu Selatan Sumta Talan. Johni langsung bergerak memeriksa lini produksi dapur masakan, memantau rantai pasokan logistik, hingga mencermati detail manajemen distribusi makanan ke ribuan penerima manfaat.
Dalam verifikasi data di lapangan, Kepala SPPG Kefamenanu Selatan, Sumta Talan, melaporkan bahwa dapur produksi ini menggerakkan 47 tenaga kerja lokal untuk menyuplai kebutuhan gizi harian bagi 2.933 jiwa penerima manfaat. Johni pun mengapresiasi parameter higienitas dapur dan tata ruang operasi yang dinilai memenuhi standar regulasi.
Meski memberikan rapor hijau terhadap kebersihan fasilitas, Johni Asadoma memberikan instruksi tegas bagi manajemen operasional. Ia memperingatkan agar tata kelola anggaran dan pemanfaatan bahan makanan dijaga ketat dari segala bentuk pemborosan.
"Kebersihan dan tata kelola di sini sudah di atas rata-rata. Pertahankan performa ini. Efek domino dari rantai pasok program ini harus menghidupkan ekonomi petani lokal dan menjamin hak gizi anak-anak kita. Jangan sampai ada kelalaian administrasi atau teknis yang berujung pada pembekuan (suspend) layanan. Taruhannya adalah masyarakat," tegas Johni.
Gayung bersambut, Wakil Bupati TTU Kamilus Elu memaparkan data konkret dampak program MBG terhadap sektor pendidikan. Berdasarkan evaluasi berkala di lapangan, grafik absensi siswa menunjukkan tren positif secara signifikan sejak program penambahan gizi ini digulirkan.
"Angka bolos atau ketidakhadiran siswa di kelas turun drastis. Kehadiran program ini terbukti menjadi stimulus yang nyata bagi anak-anak untuk lebih rajin ke sekolah," ungkap Kamilus.
Pacu Kompetensi Global, Wagub Tantang Siswa Kuasai Bahasa Internasional
Usai merampungkan inspeksi gizi, Johni Asadoma mengalihkan fokusnya ke sektor peningkatan mutu sumber daya manusia dengan mendatangi SMA Negeri 2 Kefamenanu di wilayah Sasi. Di sana, ratusan elemen pendidikan yang terdiri dari para kepala sekolah, pengawas, guru, serta sekitar 600 perwakilan siswa SMA, SMK, dan SLB se-Kota Kefamenanu telah berkumpul.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, Dominikus Paulus Kolin, memaparkan laporan strategis mengenai peta kompetensi pendidikan menengah di wilayahnya yang mencakup 16 sekolah. Dalam rentang dua tahun terakhir, wilayah tersebut mencatat rekor kelulusan akumulatif: 462 siswa menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN), 67 lulus seleksi TNI, 17 masuk korps Polri, serta sejumlah siswa menembus institusi elite seperti Universitas Pertahanan (Unhan), IPDN, dan Fakultas Kedokteran.
Di hadapan Wagub, Dominikus juga menyoroti kendala infrastruktur fatal, yakni SLB Nitsae di Naiola yang hingga pertengahan tahun 2026 ini ternyata belum tersentuh jaringan listrik. Menanggapi dinamika pendidikan tersebut, Wakil Bupati TTU Kamilus Elu menyatakan apresiasinya atas kesediaan Pemerintah Provinsi melakukan intervensi motivasi langsung ke wilayah perbatasan.
Saat berdiri di podium, Wagub Johni Asadoma menggunakan pendekatan komunikasi langsung (direct speech) untuk memompa mentalitas para siswa. Ia menekankan pentingnya penetapan target hidup (goal setting) sejak dini dan penguasaan bahasa Inggris sebagai instrumen mutlak memenangkan persaingan global.
"Tanpa peta jalan hidup yang jelas, kalian hanya akan mengalir tanpa arah. Fokus pada tujuan. Kuasai bahasa Inggris, itu bukan lagi nilai tambah, melainkan kebutuhan wajib untuk bertarung di era modern. Lembaga pendidikan tidak cuma mencetak ijazah, tapi membentuk mentalitas dan cara berpikir," cetus Johni.
Guna memberikan bukti konkret, mantan Kapolda NTT ini membagikan rekam jejak transformatif hidupnya. Ia menceritakan metamorfosis dirinya dari seorang atlet petinju nasional, menembus kerasnya pendidikan Akademi Kepolisian, menduduki kursi nomor satu Polda NTT, hingga terpilih sebagai Wakil Gubernur NTT mendampingi Gubernur Melki Laka Lena. Johni yang juga sukses meraih gelar Doktor (S3) ini menegaskan bahwa kombinasi disiplin militeristik, ketekunan akademik, dan mentalitas pantang menyerah adalah kunci mendobrak keterbatasan.
Ia menginstruksikan para siswa agar tidak menjadi generasi penonton. Mereka dituntut aktif membangun jaringan (networking), adaptif terhadap teknologi, kreatif, komunikatif, serta menjaga integritas moral dan spiritual dengan tetap mengandalkan Tuhan.
Sesi kunjungan berubah interaktif saat Johni melempar tantangan spontan di atas panggung. Ia menantang para siswa merangkum seluruh materi pidatonya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tanpa teks. Sejumlah siswa yang berani naik ke panggung dan menjawab tantangan dengan lugas langsung diganjar penghargaan (reward) tunai dari kantong pribadi Wagub sebagai insentif atas nyali dan kompetensi mereka.
Lirik Potensi Wisata Rohani di Sasi
Menutup rangkaian kunjungan kerjanya di bumi Biinmafo, Johni Asadoma melakukan peninjauan arsitektur ke Gereja Katolik Santo Antonius Padua Sasi. Perwira tinggi purnawirawan Polri ini mencermati struktur bangunan gereja yang didominasi material batu merah ekspos tanpa plester, yang memberikan karakter kokoh sekaligus bernilai estetika tinggi.
Menurut Johni, keunikan struktur bangunan bersejarah dan bernilai seni tinggi seperti Gereja Sasi ini harus dikapitalisasi dengan baik. Tempat ibadah ini tidak boleh sekadar menjadi ruang ritus keagamaan, melainkan harus dipromosikan secara masif sebagai ikon destinasi wisata rohani di Kabupaten TTU.
"Konstruksi batu merah ini punya karakter visual yang sangat kuat. Ini aset pariwisata daerah yang luar biasa. Jika dikelola dan dipromosikan secara profesional, wisata rohani ini akan mendongkrak ekonomi kreatif regional sekaligus memperkokoh toleransi spiritual di NTT," pungkas Johni, menutup agenda kerja maratonnya di TTU.
Editor: Tim Redaksi Garis Pena Indonesia
Sumber: Siaran Pers Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT
Komentar
Posting Komentar