Penyegelan ini praktis mematikan aktivitas keagamaan di sana. Mushola yang biasanya ramai dengan suara anak-anak mengaji, kini tertutup rapat. Akibatnya, proses belajar-mengajar terpaksa menumpang dari rumah ke rumah warga secara berpindah-pindah.
Kondisi ini mulai memakan korban. Beberapa siswa dilaporkan berhenti mengaji karena lokasi rumah warga yang menjadi tempat pengganti dinilai terlalu jauh dan tidak menetap.
Jeritan Siswa untuk Presiden
Naya, salah satu siswi yang terdampak, mengungkapkan keresahannya saat ditemui pada Senin (10/2/2026). Tanpa basa-basi, ia meminta perhatian langsung dari Presiden RI, Prabowo Subianto, agar mereka bisa kembali belajar dengan tenang.
“Kami cuma ingin bisa ngaji lagi di mushola. Sekarang kami harus pindah-pindah rumah, bahkan ada teman yang berhenti karena jauh. Pak Prabowo, tolong buka kembali mushola kami,” tegas Naya.
Butuh Solusi Cepat
Hingga saat ini, pihak pengelola dan jamaah Darul Amanah masih berupaya menyelesaikan urusan perizinan tersebut. Namun, para orang tua siswa mendesak adanya solusi segera. Mereka berharap konflik administratif ini tidak mengorbankan hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan agama.
Kini bola panas ada di tangan pemangku kebijakan. Warga menanti jalan keluar agar aktivitas mengaji di Liliba bisa kembali normal tanpa ada gesekan sosial lebih lanjut. (*)
EDITOR: LL//gpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar