Selasa, 10 Februari 2026

Misteri di Balik Api Liliba: Ketika Keadilan Diduga Terbakar Skenario, Eben Tung Sely Angkat Bicara

KUPANG – Tabir gelap yang menyelimuti kematian tragis Sebastian Bokol (22) pada Agustus 2022 silam bukannya tersingkap, justru kian pekat. Dewan Pengurus Daerah (DPD) GRIB Jaya Provinsi NTT melontarkan tudingan keras: penanganan kasus oleh Polda NTT diduga kuat hanyalah sebuah panggung sandiwara hukum yang sarat rekayasa.

​Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menyimpan rahasia. Namun, tiba-tiba di akhir 2025, tujuh pemuda (JK, HS, FN, AP, AM, MN, dan WT) diringkus dan dijebloskan ke jeruji besi. Mereka dituduh sebagai eksekutor nyawa Sebastian dengan motif yang dianggap nalar hukum sebagai "lelucon": ketersinggungan sepele saat pesta minuman keras.

​"Motif ini mengada-ada! Tidak masuk akal jika ketersinggungan kecil berujung pada pembunuhan keji hingga pembakaran jasad," tegas Eben Tung Sely, Kabag Hukum GRIB Jaya NTT, dalam rilis resminya, Selasa (10/02/2026).

​Eben mencium aroma amis di balik penetapan tersangka ini. Ia menyoroti kontras yang tajam: pada 2022, Polresta Kupang sempat membidik motif cinta segitiga sebelum kasus di-SP3. Kini, Polda NTT muncul dengan narasi baru yang dianggap jauh dari fakta lapangan.

​Ketegangan memuncak saat rekonstruksi digelar pada Desember lalu. Di lokasi yang seharusnya menjadi saksi bisu kekejaman, tujuh tersangka justru membisu. Mereka bersikukuh tidak mengenal korban, apalagi membunuhnya. Akibatnya, penyidik terpaksa menggunakan peran pengganti—sebuah pemandangan ganjil di tengah pemukiman padat Liliba yang seharusnya gempar jika pembakaran manusia benar-benar terjadi di sana secara terbuka.

​Kejanggalan kian berlapis ketika muncul pengakuan mengejutkan dari seorang saksi bernama Mahyudin alias Paman. Ia mengaku dipaksa oleh penyidik untuk memberikan kesaksian palsu. Rekaman pengakuan ini kini menjadi "bom waktu" yang siap diledakkan di persidangan.

"Jika saksi melihat kejadian itu tiga tahun lalu, mengapa mereka diam? Ini bukan pembunuhan misterius, ini adalah pembiaran yang patut dipertanyakan," cecar Eben.

​GRIB Jaya juga menuding penyidik mengabaikan bukti vital:

  • Alibi Motor: Dua sepeda motor yang disita diduga tidak berada di lokasi saat kejadian; satu sudah dijual lama, satu lagi berada di luar kota.
  • Komunikasi Terakhir: Panggilan telepon korban ke orang tuanya pada dini hari kejadian seolah "dihapus" dari BAP.
  • Saksi Siluman: Salah satu saksi kunci diduga kuat sedang berada di Kabupaten Rote Ndao saat peristiwa maut itu terjadi.

​Kini, publik NTT menanti dengan napas tertahan. Apakah tujuh pemuda ini adalah pelaku yang sebenarnya, ataukah mereka hanyalah "tumbal" demi menutup sebuah berkas perkara yang tak kunjung usai? Di tanah Timor, seruan keadilan untuk Sebastian Bokol kini berganti menjadi tuntutan transparansi agar hukum tidak menjadi pedang yang menebas orang-orang yang salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wagub Johni Asadoma: Jangan Tunggu Sekarat, Deteksi Dini Kanker Itu Harga Mati!

KUPANG, Pena Indonesia – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, melempar peringatan keras kepada warga, khususnya kaum perempuan di NTT. Pesanny...