Rabu, 11 Februari 2026

Pimpin Apel Perdana, Gubernur Melki: ASN Harus Disiplin, Urus Rakyat Miskin dengan Hati, dan Jaga Wajah NTT di Perantauan

KUPANG, Pena Indonesia – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan pesan mendalam sekaligus peringatan keras bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Provinsi NTT. Dalam apel bersama yang digelar di halaman Gedung Sasando, Senin (9/2/2026), Gubernur menekankan bahwa tahun ini adalah momentum transformasi birokrasi yang lebih manusiawi dan disiplin.

Ketegasan Disiplin di Tahun Kedua
​Memasuki tahun kedua masa kepemimpinan bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma, Gubernur Melki menegaskan tidak ada lagi ruang bagi kelonggaran disiplin. Ia menggarisbawahi bahwa efektivitas program pemerintah sangat bergantung pada integritas dan kehadiran fisik ASN di lapangan. 

​"Tahun lalu mungkin masih banyak toleransi. Namun tahun ini, kita akan tegas terkait aturan. Tanpa disiplin, sulit bagi kita untuk mencapai target program yang telah direncanakan," tegas Melki di hadapan para pimpinan perangkat daerah dan staf.

Marwah Diaspora dan Citra Daerah
​Gubernur juga menyoroti perilaku oknum Diaspora NTT di luar daerah yang belakangan memicu polemik sosial. Berkaca dari kunjungan kerja Wagub Johni Asadoma ke Bali untuk menyelesaikan konflik oknum warga NTT, Melki meminta ASN menjadi edukator bagi keluarga mereka masing-masing.

​Ia mengingatkan bahwa setiap warga NTT yang berada di luar daerah adalah duta budaya. Perilaku yang santun dan ketaatan pada aturan setempat adalah kunci untuk menjaga reputasi provinsi dan menghapus stigma negatif yang selama ini melekat.

Tragedi Jerebuu: "Tamparan" Bagi Birokrasi
​Poin paling krusial dalam amanat Gubernur kali ini adalah refleksi atas wafatnya YBR (10), seorang siswa SD di Kabupaten Ngada yang nekat mengakhiri hidupnya. Melki menyebut peristiwa ini sebagai duka sekaligus tamparan keras bagi pemerintah.

​Ia menyoroti ironi wilayah Jerebuu yang subur namun masih terjebak dalam kemiskinan ekstrem. Melki menginstruksikan perombakan total pada sistem pemberian bantuan agar tidak lagi terhambat oleh birokrasi yang kaku.

• ​Penyederhanaan Prosedur: Dinas teknis diminta mendesain ulang mekanisme bantuan agar masyarakat miskin tidak dipersulit oleh urusan administratif.

• ​Akurasi Data: Operator data dilarang keras "bermain" dengan angka kemiskinan. Melki mengancam sanksi hukum berat bagi siapapun yang memanipulasi data orang miskin.

• ​Deteksi Dini: Menghidupkan kembali pranata sosial (RT/RW, Dasawisma, Posyandu) sebagai sistem peringatan dini untuk memantau warga yang berada dalam kondisi sulit.

Mengawal Asta Cita dan Dasa Cita
​Menutup arahannya, Gubernur mengingatkan bahwa ASN adalah penentu keberhasilan visi Presiden (Asta Cita) dan program daerah (Dasa Cita). Fokus utama ke depan adalah memastikan seluruh program bantuan sosial, kesehatan, dan pendidikan tepat sasaran tanpa ada warga yang "tercecer" dari pendataan.

​"Tugas kita adalah mengurus orang-orang susah di NTT. Pastikan bantuan sampai ke tangan mereka tanpa terhalang alasan apapun," tutupnya.

editor: LL//gpi
Source: biro humas provinsi NTT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wagub Johni Asadoma: Jangan Tunggu Sekarat, Deteksi Dini Kanker Itu Harga Mati!

KUPANG, Pena Indonesia – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, melempar peringatan keras kepada warga, khususnya kaum perempuan di NTT. Pesanny...