Undana Kucurkan Miliaran Rupiah: Menghapus Stigma Menara Gading, Menjadi Menara Air bagi NTT

KUPANG, PENA INDONESIA – Universitas Nusa Cendana (Undana) tidak ingin lagi sekadar menjadi penonton di tengah dinamika persoalan Nusa Tenggara Timur. Melalui peluncuran Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Pendanaan Internal 2026 yang digelar secara daring pada Rabu (7/5/2026), kampus tertua di NTT ini menunjukkan taji dengan komitmen anggaran yang ambisius.

​Tahun ini, Undana mengadopsi paradigma impact-driven science. Fokusnya jelas: ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di atas kertas, tapi harus mendarat di akar rumput. Dengan alokasi pendanaan mencapai Rp1 miliar untuk setiap wilayah prioritas, Undana menargetkan delapan titik strategis di NTT sebagai laboratorium solusi.

​Dari "Menara Gading" Menuju "Menara Air"
​Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., memberikan pesan menohok bagi seluruh civitas akademika. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab moral perguruan tinggi adalah memberikan dampak konkret bagi publik. Sinergi antara dosen dan mahasiswa dalam KKN maupun pengabdian tidak boleh hanya jadi rutinitas administratif.

​"Undana tidak boleh menjadi menara gading yang terasing, tetapi harus menjadi menara air bagi masyarakat NTT. Kita hadir untuk mengalirkan solusi atas tantangan nyata yang dihadapi daerah ini," tegas Prof. Jefri.

​Metafora "Menara Air" ini menjadi arah baru bagi Undana. Jika menara gading identik dengan eksklusivitas intelektual yang jauh dari rakyat, menara air adalah sumber kehidupan yang mendistribusikan manfaat hingga ke pelosok-pelosok kering.

Skema Kompetisi dan Target SDGs
​Demi mengejar visi world class locally relevant university, Undana telah merancang skema pengabdian yang terukur. Program PKM 2026 diarahkan langsung pada target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada sektor:

1. ​Pendidikan Bermutu

2. ​Pengentasan Kemiskinan

3. ​Energi Bersih

​4. Ekosistem Berkelanjutan

​Para dosen ditantang bersaing dalam berbagai kategori, mulai dari PKM Pemula, Reguler, hingga skema bergengsi “Guru Besar Berdampak”. Standar output yang ditetapkan pun tidak main-main: wajib tembus jurnal terindeks Sinta dan menyertakan dokumentasi video sebagai bukti transparansi kepada publik.

​Akuntabilitas Berbasis Data
​Undana kini menerapkan digitalisasi penuh melalui sistem SIPB untuk menutup celah inefisiensi. Seleksi proposal, yang mencakup verifikasi administrasi hingga substansi, dipatok rampung pada Juni 2026.

​Mekanisme keuangan pun dibuat ketat:

​•• Tahap I (80%): Dikucurkan di awal untuk menjamin kegiatan berjalan.

•• ​Tahap II (20%): Hanya cair jika laporan kemajuan telah tuntas. 

​Kepala UGT TIK Undana menekankan bahwa setiap dosen wajib menentukan lokasi sasaran secara presisi hingga tingkat desa. Tujuannya jelas: memetakan kontribusi kampus secara akurat berbasis data, sehingga tidak ada lagi wilayah yang terabaikan atau tumpang tindih program.

​Melalui keberanian mengucurkan dana internal dalam jumlah besar, Undana sedang memposisikan diri sebagai mitra strategis pembangunan. Ini adalah langkah nyata bahwa inovasi sosial dari dalam kampus harus menjadi mesin penggerak bagi peningkatan taraf hidup masyarakat NTT.

Editor: Tim Redaksi Garis Pena Indonesia
Sumber: Ollien Manggol

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri di Balik Api Liliba: Ketika Keadilan Diduga Terbakar Skenario, Eben Tung Sely Angkat Bicara

BEM Undarma Kupang Kecam Kebijakan Libur Mendadak: "Kampus Tidak Boleh Membungkam Suara Mahasiswa!"

Mushola Darul Amanah Disegel, Isak Tangis Naya Mengetuk Pintu Hati Presiden Prabowo