Berantas Celah Gratifikasi, UPT LLKK Undana Digitalkan Sewa Aset dan Izin Riset
KUPANG, PENA INDONESIA – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Lahan Kering Kepulauan (LLKK) Universitas Nusa Cendana (Undana) melakukan gebrakan nyata dalam reformasi birokrasi. Lewat peluncuran sistem layanan digital untuk penyewaan aset dan perizinan penelitian, institusi ini mempertegas komitmennya membangun Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).
Langkah ini diambil untuk meruntuhkan sekat-sekat birokrasi manual yang lamban dan rentan penyimpangan, sekaligus menciptakan ekosistem pelayanan yang transparan dan akuntabel.
Memutus Mata Rantai Tatap Muka
Kepala UPT LLKK Undana, Nixon Ramang, S.Hut., M.Si., menyatakan bahwa digitalisasi ini adalah transformasi total pola kerja. Mengandalkan sistem pemindaian kode batang (barcode) dan tautan daring, seluruh proses permohonan kini berada dalam satu kendali sistem yang terukur.
“Sistem ini memastikan setiap permohonan terpantau langsung oleh admin hingga pimpinan. Durasi tindak lanjut kita kunci maksimal dua hari. Poin krusialnya, kita meminimalisasi interaksi tatap muka langsung guna menutup celah praktik gratifikasi,” tegas Nixon di Kantor LLKK, Selasa (5/5/2026).
Menggenjot Pendapatan Lewat Tata Kelola Satu Pintu
LLKK Undana saat ini memegang kendali atas aset strategis yang mencakup lahan pertanian produktif, kandang terintegrasi, kolam perikanan, hingga alutsista riset modern seperti drone dan traktor. Seluruh potensi ini kini dikelola melalui sistem satu pintu untuk mengoptimalkan peran LLKK sebagai unit penghasil pendapatan (income generating unit).
Nixon mematok target tinggi. Pendapatan tahun ini diproyeksikan menyentuh angka Rp70 juta, dengan ambisi melampaui Rp100 juta pada tahun-tahun mendatang. Strateginya jelas: penguatan publikasi digital dan perluasan jejaring kerja sama dengan pihak ketiga.
Target Akhir: Database Terintegrasi
Senada dengan itu, pengelola layanan digital LLKK, Ebit Robinson, menjelaskan bahwa pengembangan ini merupakan fase awal menuju integrasi database penuh. Visi besarnya adalah menyediakan platform tunggal di mana pengguna dapat mengecek ketersediaan aset secara real-time, melakukan pembayaran, hingga menerima penerbitan izin otomatis.
“Fokus kita adalah kenyamanan dan kepastian bagi pengguna. Tidak boleh lagi ada proses administratif yang berbelit. Semua harus tuntas dalam sistem, mulai dari cek stok lahan hingga terbitnya surat izin,” ujar Ebit.
Inovasi digital ini menjadi sinyal kuat bahwa UPT LLKK Undana tengah memposisikan diri sebagai garda terdepan dalam tata kelola universitas yang modern dan profesional di Nusa Tenggara Timur.
Sumber: Ollien Manggol
Editor: Tim Redaksi Pena Indonesia
Komentar
Posting Komentar