Melki meminta warga berhenti bersikap apatis. Di tengah situasi sulit ini, kepekaan sosial menjadi harga mati. "Harga-harga sudah naik. Jangan belanja sembarangan, dan yang paling penting, lihat kiri-kanan. Jangan sampai kita kenyang, tapi tetangga sebelah mati lapar karena kita tidak peduli," tegas Melki di depan jemaat.
Ia menginstruksikan aparat desa dan tokoh agama untuk segera menyisir warga yang benar-benar kesulitan. Melki tidak ingin bantuan pemerintah salah sasaran hanya karena data yang amburadul atau sikap masa bodoh pejabat di tingkat bawah.
Selain ancaman lapar, cuaca ekstrem El Nino juga sedang mengintai. Melki mengingatkan bahwa kemarau tahun ini akan lebih panjang dan membakar. Ia meminta warga tidak boros air dan petani harus lebih cerdik mengelola lahan.
Sebagai jalan keluar, pemerintah menyodorkan program "Brigade Alsintan". Intinya, petani bisa pakai alat pertanian milik pemerintah secara gratis, hanya modal bahan bakar. Ia juga menantang warga untuk produktif membuat barang apa saja yang punya nilai jual untuk dimasukkan ke NTT Mart.
"Kita ingin produk rakyat punya nilai tambah, bukan cuma jual mentah," tambahnya.
Romo Beatus Ninu, Pastor Paroki setempat, mengapresiasi langkah Gubernur yang mau turun langsung melihat kondisi umat di pelosok. Baginya, kehadiran pemimpin di tengah krisis seperti ini sangat dibutuhkan agar rakyat tidak merasa berjuang sendirian.
EDITOR: Team Redaksi Garis Pena Indonesia//LL
SUMBER: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar