Dalam sambutannya, Christian menegaskan bahwa Jalan Salib bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi atas keteguhan iman dan harapan di tengah tantangan. Ia mengapresiasi dedikasi pemuda GMIT yang konsisten menjaga tradisi spiritual ini.
“Harapan adalah esensi hidup. Tanpa harapan, manusia kehilangan makna. Saya minta pemuda tidak hanya menunggu masa depan, tapi berani mengambil peran strategis sekarang juga,” tegas Christian di hadapan peserta.
Ia juga menekankan pentingnya mentalitas pantang menyerah. Mengutip filosofi keberanian, Wali Kota menyebut bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk bangkit setiap kali terjatuh.
Refleksi dan Edukasi Visual
Ketua Majelis Klasis GMIT Kota Kupang, Pdt. Delviana K. Poych Snae, menambahkan bahwa prosesi ini adalah "katekisasi visual". Di tengah gempuran arus informasi digital, visualisasi penderitaan Kristus diharapkan mampu menghidupkan iman jemaat secara lebih kontekstual.
"Ini adalah bentuk kesaksian iman di ruang publik. Kami ingin pemuda menjadi agen transformasi yang memiliki integritas di tengah tantangan zaman," ujar Pdt. Delviana.
Rute Prosesi
Prosesi tahun ini dimulai dari Taman Nostalgia dan berakhir di GMIT Pohonitas Manulai II. Berikut adalah titik perhentian (etape) yang dilalui:
• GMIT Kota Baru
• GMIT Pniel Oebobo
• GMIT Kefas Oetete
• GMIT Koinonia Kupang
• GMIT Syalom Kupang
• GMIT Kemah Ibadat Airnona
• GMIT Rehobot Bakunase
• GMIT Hosana Batuplat
• GMIT Pohonitas Manulai II (Finish)
Hadir dalam acara tersebut Sekretaris Daerah Kota Kupang Jeffry E. Pelt, jajaran asisten Sekda, serta para pimpinan majelis jemaat se-Klasis Kota Kupang. (GMN)
EDITOR: Team Redaksi Garis Pena Indonesia//DWN
Sumber: Prokopim Setda kota Kupang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar