Sabtu, 11 April 2026

Pusat Tantang Kota Kupang Jadi Barometer Sampah di NTT, Christian Widodo: Kami Mulai Roadmap dari Nol!

KOTA KUPANG, PENA INDONESIA– Wajah pengelolaan sampah di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini bertumpu pada Kota Kupang. Tidak tanggung-tanggung, Kementerian Lingkungan Hidup mendorong ibu kota provinsi ini menjadi role model nasional melalui skema transformasi total dari hulu ke hilir.

​Dalam audiensi bersama Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, Rabu (8/4), Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Haruki Agustina, memberikan rapor hijau atas progres Kupang. Skor pengelolaan sampah kota ini melonjak dari 41,93 ke 50,8.

​Meski trennya positif, pusat belum puas. Mereka menantang Kupang melakukan lompatan sebesar 15 poin lagi untuk melampaui standar minimal nasional.

Strategi 15 Persen Residu: Bukan Sekadar Pindah Sampah
​Menjawab tantangan tersebut, dr. Christian Widodo menegaskan bahwa Pemkot Kupang tidak lagi menggunakan pola lama "angkut-buang". Fokus utama saat ini adalah memutus rantai sampah sebelum sampai ke TPA.

​"Kami tidak mau lagi hanya memindahkan sampah dari satu titik ke titik lain. Target kami jelas: hanya 15 persen residu yang masuk ke TPA, sisanya harus habis diolah di tingkat wilayah," tegas Christian.

​Dengan produksi sampah mencapai 267 ton per hari, dr. Christian menyiapkan roadmap berbasis kecamatan:

• ​TPST Tiap Kecamatan: Pengolahan sampah tuntas di tingkat lokal.

• ​Konsep Zero Waste: Mengubah sampah menjadi sumber energi dan nilai ekonomi.

• ​Kolaborasi CSR: Menggandeng BUMN seperti Pertamina dan PLN untuk teknologi pengolahan sampah menjadi energi.

Edukasi dan Insentif Rp1 Miliar
​Transformasi ini bukan tanpa kendala. Masalah klasik "kesadaran masyarakat" tetap menjadi tembok besar. Untuk itu, Pemkot Kupang mengombinasikan langkah teknis dengan stimulan sosial:

1. ​Lomba Kebersihan Antar-Kelurahan: Kelurahan terbaik akan diganjar program senilai Rp1 Miliar.

2. ​Satgas Sampah & Jam Buang: Pengetatan aturan pembuangan sampah dan penyediaan ratusan kontainer baru.

3. ​Edukasi Lintas Sektor: Melibatkan tenaga kesehatan dan penyuluh lapangan untuk mengajarkan pemilahan sampah dari level rumah tangga.

​Pusat telah menjanjikan pendampingan penuh, mulai dari kapasitas SDM hingga sistem penyuluhan. Jika eksperimen di Kota Kupang ini berhasil, ini akan menjadi cetak biru bagi seluruh daerah di NTT.

​Kupang kini bukan lagi sekadar kota yang membersihkan sampah, tapi kota yang sedang membangun sistem industri lingkungan.

Editor: Team Redaksi Garis Pena Indonesia//LL
Sumber: Prokopim Setda Kota Kupang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wagub Johni Asadoma Warning UPTD Pendapatan Alor: Target Rp23,5 Miliar Baru Cair 11 Persen!

ALOR, Pena Indonesia – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, memberikan peringatan keras kepada jajaran UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kabupate...