Langkah ini bukan tanpa alasan. Ada ambisi besar yang sedang dipamerkan: menjadikan ritual iman sebagai magnet uang melalui sektor wisata religi.
Toleransi yang Terpampang Nyata
Pemandangan di Pantai Lai-Lai Besi Kopan (LLBK) hari itu cukup provokatif bagi siapa saja yang masih meragukan kerukunan di NTT. Nelayan muslim dari Oesapa ikut ambil bagian, lengkap dengan atribut yang mendukung prosesi umat Kristiani.
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, menyebut ini sebagai bukti konkret label "Nusa Terindah Toleransi". Di saat banyak daerah terjebak konflik identitas, NTT justru memamerkan kerja sama lintas iman sebagai komoditas sosial yang mahal harganya.
Agama dan Target Pendapatan
Namun, di balik narasi iman, pemerintah provinsi terang-terangan membidik potensi ekonomi. Johni mendorong agar prosesi ini dipatenkan menjadi identitas budaya dan destinasi wisata baru.
"Kalau ini terus dikembangkan, ini kekuatan pariwisata daerah," ujar Johni.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kegiatan keagamaan kini dituntut punya dampak instan pada dompet masyarakat. Keterlibatan UMKM dalam expo di lokasi acara menjadi bukti awal bahwa doa dan dagang bisa berjalan beriringan.
Tantangan Konsistensi
Ketua Pemuda Sinode GMIT, Erens Blegur, mengklaim acara ini sebagai perwujudan mimpi lama. Targetnya ambisius: festival Paskah yang lebih besar di masa depan.
Namun, tantangan klasiknya tetap sama: Apakah ini akan menjadi agenda tahunan yang berdampak luas, atau hanya sekadar parade perahu yang selesai begitu matahari terbenam? Publik kini tinggal menunggu apakah narasi "wisata religi" ini benar-benar mampu mendatangkan turis dan menggerakkan ekonomi lokal secara konsisten, atau hanya menjadi seremoni mewah yang menguap begitu saja.
EDITOR: Team Redaksi Garis Pena Indonesia//LL
SUMBER: Biro Administrasi Pemerintahan Setda Prov NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar