Hal ini ditegaskan Gubernur saat membuka Festival Lamaholot di GOR Oepoi Kupang, Jumat (10/4). Di hadapan tokoh-tokoh penting dan ribuan warga Lamaholot, pesan Melki Laka Lena jelas: Budaya adalah modal, dan ekonomi adalah tujuannya.
Budaya Sebagai Perekat, Ekonomi Sebagai Penggerak
Gubernur mengakui bahwa membangun daerah seringkali terkendala oleh batas wilayah administratif. Namun, ia melihat budaya Lamaholot memiliki "daya rekat" yang jauh lebih kuat untuk menyatukan masyarakat lintas daerah (Flores Timur, Lembata, dan Alor).
"Pendekatan kawasan seringkali tidak mudah, tetapi budaya mampu menyambungkan. Ini kekuatan yang harus kita manfaatkan untuk mendorong perputaran ekonomi," tegas Melki.
Ia ingin ikatan kekerabatan masyarakat Lamaholot yang selama ini dikenal solid, kini mulai diarahkan pada hal-hal yang lebih produktif dan inovatif. Singkatnya, solidaritas harus menghasilkan unit usaha, UMKM, dan lapangan kerja.
Identitas Tangguh dan Jujur
Senada dengan Gubernur, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma yang juga hadir sebagai Penasihat Keluarga Besar Lamaholot, mengingatkan warga untuk tidak melupakan "akar" karakter asli Lamaholot.
Ia menekankan lima karakter kunci yang harus dimiliki setiap orang Lamaholot:
1. Tangguh
2. Cerdas
3. Pekerja Keras
4. Jujur
5. Disiplin
Johni juga mendorong agar Festival Lamaholot ini bukan sekadar ajang temu kangen, tapi didorong menjadi agenda tahunan resmi di bawah Kementerian Kebudayaan agar dampak ekonominya lebih luas.
Langkah Konkret: Seminar Strategis
Tak berhenti di seremonial, acara langsung tancap gas dengan seminar strategis yang menghadirkan para pengambil kebijakan:
Petrus Kanisius Tuaq (Bupati Lembata)
Antonius Doni Dihen (Bupati Flores Timur)
Obeth Bolang (Sekda Alor)
Linus Lusi (Kadis Koperasi & UKM)
Seminar ini fokus membedah cara memperkuat UMKM dan ekonomi komunitas berbasis budaya. Tujuannya satu: melahirkan gagasan inovatif agar entitas Lamaholot tidak hanya solid secara sosial, tetapi juga punya daya saing tinggi di pasar ekonomi lokal maupun nasional.
Festival ini menjadi momentum konsolidasi besar. Saatnya masyarakat Lamaholot membuktikan bahwa solidaritas mereka mampu menjadi tulang punggung baru bagi pembangunan Nusa Tenggara Timur.
Editor: Team Redaksi Garis Pena Indonesia
Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda prov NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar