Senin, 06 April 2026

​28 Tahun GMIT Moria Liliba: Serena Francis Ajak Jemaat Jadi 'Garam' di Tengah Keberagaman Kota Kasih

KOTA KUPANG, PENA INDONESIA– Momentum Paskah 2026 menjadi catatan sejarah yang manis bagi Jemaat GMIT Moria Liliba. Minggu (5/4), di sela-sela dentang lonceng gereja dan kidung syukur, gereja ini genap berusia 28 tahun. Hadir di tengah jemaat, Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis, S.Sos., M.Sc., membawa pesan mendalam tentang "Iman yang Bergerak".

​Serena tak sekadar hadir secara seremonial. Dalam balutan suasana khidmat, ia mengingatkan bahwa Paskah adalah "bahan bakar" untuk meninggalkan egoisme dan kebencian.

​Paskah: Bukan Sekadar Kata, Tapi Aksi Nyata
​“Paskah adalah inti dari iman kita. Ada harapan baru di sana. Namun, iman yang hidup itu tidak boleh berhenti di bibir saja, ia harus mewujud dalam tindakan nyata di tengah masyarakat,” tegas Serena dalam sambutannya.

​Bagi sosok pemimpin muda ini, usia 28 tahun GMIT Moria Liliba adalah bukti dedikasi panjang. Ia mengapresiasi bagaimana gereja telah bertransformasi menjadi oase bagi lingkungan sekitar. Gereja, menurut Serena, memiliki beban moral untuk menjadi 'terang dan garam'—terutama dalam menjaga tenun persaudaraan di Kota Kupang.

Potret Toleransi: Dari Takjil hingga Pawai Paskah
​Ada yang menarik saat Serena menyentuh isu toleransi. Ia menggambarkan betapa indahnya harmoni di Kota Kupang, di mana sekat-sekat agama luruh dalam kebersamaan.

• ​Simbol Toleransi: Serena mencontohkan bagaimana warga lintas agama antusias berburu takjil saat Ramadan, dan bagaimana warga non-Kristiani turut mendukung kemeriahan Pawai Paskah.

• ​Predikat Nasional: “Kota Kupang adalah Kota Kasih. Rumah besar kita bersama. Tak heran jika satu dekade terakhir kita konsisten meraih penghargaan sebagai kota paling toleran di Indonesia,” jelasnya dengan nada bangga.

​Selain soal toleransi, Serena juga menitipkan pesan krusial kepada gereja untuk pasang badan terhadap isu kesehatan mental dan perlindungan anak. Ia berharap gereja menjadi benteng moral bagi generasi muda di tengah gempuran zaman.

Suara Gembala: Dari Bertahan Menuju Mengutus
​Senada dengan itu, Pdt. Desiana Rondo Effendy, S.Th., M.Th., dalam suara gembalanya memberikan refleksi filosofis. Baginya, angka 28 tahun adalah titik perjumpaan antara "salib dan kebangkitan".

​“Perjalanan ini tidak mudah. Penuh air mata dan dinamika. Tapi Paskah mengajarkan bahwa tidak ada pelayanan yang sia-sia di mata Tuhan,” ungkap Pdt. Desiana.

​Di usia baru ini, GMIT Moria Liliba melakukan lompatan besar. Dari yang semula sekadar "bertahan", kini bertransformasi menjadi gereja yang "mengutus". Salah satu langkah konkretnya adalah peluncuran website resmi jemaat, sebuah adaptasi teknologi untuk memastikan kabar baik menjangkau ruang digital yang lebih luas.

Hadir dalam acara tersebut:
​Pdt. Elisabeth Radja Gah-Djara (Ketua Majelis Jemaat)
​Ir. Fary Djemy Francis (Komut PT. Taspen)
​Pdt. Emr. Okto Nenohai (Pemimpin Ibadah)
​Para mantan pendeta, presbiter, dan seluruh jemaat yang memadati gereja.

Editor: Team Redaksi Garis Pena Indonesia
Sumber: Prokopim Setda Kota Kupang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Secercah Harapan di Namosain: Saat Kemanusiaan Mengetuk Pintu Keluarga Nunbala

​ KUPANG, 15 April 2026 – Di sudut Kelurahan Namosain, Kota Kupang, angin laut membawa aroma garam yang kontras dengan sunyinya sebuah rum...