Pelantikan ini bukan sekadar seremoni administratif. Ini adalah langkah strategis dalam menjaga stabilitas sosial di ibu kota Nusa Tenggara Timur.
Kepemimpinan Baru, Tanggung Jawab Baru
Estafet kepemimpinan PHBI kini berada di tangan Bustaman, SSTP sebagai Ketua, didampingi oleh Ghifary I. A. Samana, SH sebagai Sekretaris, dan Fatmawaty S. Muda Makin, S.Sos sebagai Bendahara. Ketiganya memikul beban untuk membawa organisasi ini melampaui tugas-tugas teknis perayaan hari besar.
Wali Kota Kupang, Christian Widodo, dalam arahannya menekankan bahwa PHBI adalah mitra krusial pemerintah.
"PHBI hadir untuk merajut kebersamaan. Keberagaman bukan perbedaan yang memecah, tetapi justru penjaga nilai dan harmoni dalam kehidupan kita," tegas Christian.
Ia menekankan bahwa kerja sama antara organisasi keagamaan dan pemerintah harus bersifat konkret, bukan sekadar formalitas di atas kertas.
Mengelola Perbedaan: Rahmat atau Petaka?
Pesan tajam juga datang dari Ketua MUI Kota Kupang, Haji Muhammad MS. Ia mengingatkan bahwa keberagaman di Kupang adalah pedang bermata dua yang bergantung pada kualitas pengelolaan organisasinya.
1. Visi Persatuan: Perbedaan adalah rahmat jika dikelola dengan semangat kolektif.
2. Peringatan Dini: Jika tidak dijaga, perbedaan bisa menjadi celah konflik.
3. Peran Sosial: Manusia sebagai makhluk sosial wajib membangun ekosistem yang rukun demi kelangsungan pembangunan daerah.
Menatap Lima Tahun ke Depan
Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Kupang, para imam masjid, serta Ketua Demisioner PHBI, Drs. Ambo, M.Si, menunjukkan adanya dukungan penuh bagi pengurus baru.
Bagi masyarakat Kota Kupang, pelantikan ini adalah pengingat bahwa di bawah langit Kupang, perbedaan keyakinan adalah modal sosial, bukan hambatan. Harapannya, pengurus PHBI periode 2025–2030 mampu membuktikan bahwa harmoni adalah identitas yang harus terus diperjuangkan, bukan sekadar warisan yang didiamkan.
Editor: LL//gpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar