Sabtu, 14 Maret 2026

Wali Kota Kupang Lantik Pengurus PHBI 2025–2030: Perbedaan Bukan Sekadar Slogan, Tapi Kekuatan Riil

Kupang, Pena Indonesia – Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, Kota Kupang kembali menegaskan posisinya sebagai laboratorium toleransi di Indonesia. Pada Sabtu sore (14/3/2026), bertempat di Aula Rumah Jabatan Wali Kota, Christian Widodo secara resmi mengukuhkan kepengurusan Panitia Hari-Hari Besar Islam (PHBI) Kota Kupang untuk masa bakti lima tahun ke depan.

​Pelantikan ini bukan sekadar seremoni administratif. Ini adalah langkah strategis dalam menjaga stabilitas sosial di ibu kota Nusa Tenggara Timur.

Kepemimpinan Baru, Tanggung Jawab Baru
​Estafet kepemimpinan PHBI kini berada di tangan Bustaman, SSTP sebagai Ketua, didampingi oleh Ghifary I. A. Samana, SH sebagai Sekretaris, dan Fatmawaty S. Muda Makin, S.Sos sebagai Bendahara. Ketiganya memikul beban untuk membawa organisasi ini melampaui tugas-tugas teknis perayaan hari besar.

​Wali Kota Kupang, Christian Widodo, dalam arahannya menekankan bahwa PHBI adalah mitra krusial pemerintah.

​"PHBI hadir untuk merajut kebersamaan. Keberagaman bukan perbedaan yang memecah, tetapi justru penjaga nilai dan harmoni dalam kehidupan kita," tegas Christian.

​Ia menekankan bahwa kerja sama antara organisasi keagamaan dan pemerintah harus bersifat konkret, bukan sekadar formalitas di atas kertas.

Mengelola Perbedaan: Rahmat atau Petaka?
​Pesan tajam juga datang dari Ketua MUI Kota Kupang, Haji Muhammad MS. Ia mengingatkan bahwa keberagaman di Kupang adalah pedang bermata dua yang bergantung pada kualitas pengelolaan organisasinya.

1. ​Visi Persatuan: Perbedaan adalah rahmat jika dikelola dengan semangat kolektif.
2. ​Peringatan Dini: Jika tidak dijaga, perbedaan bisa menjadi celah konflik.
3. ​Peran Sosial: Manusia sebagai makhluk sosial wajib membangun ekosistem yang rukun demi kelangsungan pembangunan daerah.

​Menatap Lima Tahun ke Depan
​Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Kupang, para imam masjid, serta Ketua Demisioner PHBI, Drs. Ambo, M.Si, menunjukkan adanya dukungan penuh bagi pengurus baru.

​Bagi masyarakat Kota Kupang, pelantikan ini adalah pengingat bahwa di bawah langit Kupang, perbedaan keyakinan adalah modal sosial, bukan hambatan. Harapannya, pengurus PHBI periode 2025–2030 mampu membuktikan bahwa harmoni adalah identitas yang harus terus diperjuangkan, bukan sekadar warisan yang didiamkan.

Editor: LL//gpi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wagub Johni Asadoma: Jangan Tunggu Sekarat, Deteksi Dini Kanker Itu Harga Mati!

KUPANG, Pena Indonesia – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, melempar peringatan keras kepada warga, khususnya kaum perempuan di NTT. Pesanny...