Hadir sebagai salah satu pembicara kunci, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, memberikan potret jujur mengenai tantangan kesehatan mental yang kian kompleks, terutama di wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur.
Darurat Kesehatan Jiwa: Bukan Sekadar Angka
Ketua Umum GEKIRA, Nikson Silalahi, saat membuka acara menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi jembatan pemersatu, bukan pemicu depresi akibat ujaran kebencian. Data yang tersaji dalam diskusi tersebut cukup menggentarkan: lebih dari 31 juta penduduk Indonesia di atas usia 15 tahun didera gangguan mental.
Wagub Johni Asadoma mengamini hal tersebut. Baginya, NTT menghadapi tantangan "double burden" atau beban ganda.
"Secara nasional ada sekitar 28 juta jiwa dengan masalah kesehatan jiwa. Di NTT, penanganannya kian berat karena berkelindan dengan faktor kemiskinan, minimnya tenaga psikososial, dan stigma sosial yang masih kuat," ungkap Johni di hadapan audiens.
Sinergi Tokoh Bangsa
Diskusi ini tidak main-main. Di panggung yang sama, sejumlah tokoh nasional turut membedah persoalan dari berbagai sudut pandang:
1. Budiman Sudjatmiko (Kepala BP Taskin): Menilai kesehatan mental adalah isu peradaban. "Ini bukan lagi masalah privat, tapi menyangkut masa depan bangsa yang butuh rasa aman dan harapan," tegasnya.
2. Agus Jabo Priyono (Wamen Sosial): Menyoroti pentingnya data tunggal nasional untuk mengintegrasikan pengentasan kemiskinan dengan kesejahteraan mental.
3. Endah Sri Rejeki (Kemen PPPA): Mengungkap fakta pilu tentang 1.498 kasus bunuh diri anak (usia 13–17 tahun) dalam kurun waktu 2015–2023, yang menuntut penguatan literasi digital bagi orang tua.
Rekomendasi untuk Negeri
Sebagai penutup, GEKIRA melalui Nikson Silalahi mengeluarkan pernyataan sikap untuk mendorong pemerintah menjadikan kesehatan mental sebagai prioritas nasional. Penguatan layanan kesehatan jiwa hingga ke pelosok dan perlindungan anak di ruang digital menjadi harga mati yang harus diperjuangkan.
Wagub Johni pun berpesan agar ketahanan mental generasi muda diperkuat melalui benteng terkecil, yakni keluarga. "Era digital itu serba instan, tapi pembentukan mental tidak bisa instan. Perlu dukungan sosial yang sehat," pungkasnya.
Editor: LL//gpi
Foto: Humas Gekira
Source: biro administrasi pimpinan setda prov NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar