Prosesi ritual yang berlangsung khidmat sejak tengah hari ini dipimpin oleh Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba. Di tengah teriknya matahari Timor, kekhusyukan umat tetap terjaga saat doa-doa dipanjatkan untuk menetralisir energi negatif alam semesta (Bhuana Agung) dan diri manusia (Bhuana Alit).
Simbol Harmoni di Kota Kasih
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang hadir membuka acara secara resmi, memberikan analogi filosofis yang memukau warga. Ia mengibaratkan kehidupan beragama di Kupang seperti sebuah komposisi musik.
"Ibarat untaian nada dalam musik, semua berbeda namun menjadi alunan yang indah karena harmoni. Begitu juga Nyepi, kita perlu jeda. Seperti ponsel yang butuh restart agar tidak hang, atau kalimat yang butuh spasi agar bermakna. Nyepi adalah 'spasi' bagi jiwa kita," ujar dr. Christian disambut riuh tepuk tangan.
Senada dengan sang Wali Kota, Ketua Panitia Nyepi 2026, I Wayan Gede Astawa, menegaskan bahwa perayaan tahun ini mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju”. Semangat ini dibuktikan dengan aksi sosial nyata sebelumnya, seperti pembagian takjil bagi jamaah Masjid Al-Fitrah Oesapa dan donor darah yang melibatkan lintas iman.
Visualisasi 'Asura' dan Makna Nyomya
Puncak yang dinantikan adalah kemunculan empat Ogoh-Ogoh raksasa dan beberapa Ogoh-Ogoh cilik. Wujud Asura (raksasa) yang menyeramkan merupakan representasi dari sifat buruk manusia: amarah, dengki, dan kerakusan.
Tokoh Hindu Kupang, Rary Triguntara, menjelaskan bahwa pawai ini bukan sekadar tontonan budaya. "Ini adalah ritual Nyomya atau netralisasi. Kita memvisualisasikan sifat negatif dalam wujud Ogoh-Ogoh, mengaraknya, lalu menetralisirnya agar menjadi kekuatan positif sebelum memasuki Catur Brata Penyepian," jelas Alumni KMHDI NTT tersebut.
Menuju Keheningan Total
Meski bertepatan dengan libur panjang yang membuat sebagian umat mudik ke Bali, antusiasme tetap tinggi. Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak, termasuk kontribusi dari Klasis Kota Kupang Timur yang mempertegas potret toleransi di NTT.
Setelah kemeriahan parade seni dari siswa-siswi sekolah keagamaan Hindu dan ibu-ibu WHDI, umat kini bersiap memasuki puncak Nyepi pada Kamis (19/3). Selama 24 jam, Kota Kupang akan menyaksikan umat Hindu melaksanakan empat pantangan utama:
1. Amati Geni (Tanpa api/cahaya)
2. Amati Karya (Tanpa aktivitas fisik)
3. Amati Lelungaan (Tanpa bepergian)
4. Amati Lelanguan (Tanpa hiburan)
Rangkaian suci ini akan ditutup dengan prosesi Ngembak Geni pada 20 Maret, di mana umat akan kembali bersosialisasi dengan semangat kesucian yang baru. Di atas kanvas Kota Kupang, perayaan ini telah melukiskan satu warna indah tentang persaudaraan yang melampaui sekat keyakinan.
Laporan: Tim Pena Indonesia//LL
Foto: RyGun / HinduKupang.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar