Hadir dalam momentum tersebut Wali Kota Kupang Christian Widodo, Bupati Kupang Yosef Lede, unsur Forkopimda, serta para tokoh masyarakat dan kelompok IKM/UMKM setempat.
Bukan Sekadar Simbolis
Dalam arahannya, Gubernur Melki menekankan bahwa bantuan yang diberikan bukan sekadar seremoni belaka. Ia menyebutnya sebagai langkah taktis pemerintah untuk menggerakkan roda ekonomi di tingkat tapak.
"Program ini adalah bentuk nyata sinergi Pemprov NTT dengan pemerintah kabupaten/kota. Kita ingin ekonomi di desa dan kelurahan bergerak. Dukungan ini harus bermuara pada peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, hingga perluasan akses pasar," ujar Melki.
Ia menjelaskan, lewat Program Dasa Cita pertama: Dari Ladang dan Laut ke Pasar, pemerintah terus mendorong skema One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP) agar produk lokal NTT punya daya saing tinggi.
Tekan Defisit dengan Belanja Produk Sendiri
Gubernur Melki juga mengajak masyarakat untuk memiliki kebanggaan menggunakan produk buatan NTT. Menurutnya, keberpihakan konsumen lokal adalah kunci stabilitas ekonomi makro daerah.
"Dengan membeli produk sendiri, kita sedang menekan defisit perdagangan. Ketergantungan pada barang luar harus dikurangi agar neraca perdagangan kita sehat. Dukungan itu dimulai dari tangan kita sendiri," tegasnya.
Tak lupa, ia menyentil soal manajemen keuangan bagi para pelaku UMKM. Ia meminta warga untuk disiplin dalam mengelola arus kas.
"Bapa mama dorang harus bisa pisahkan modal usaha dengan uang keperluan pribadi. Kalau dicampur aduk, usaha susah maju. Profesionalisme itu penting supaya keuangan sehat," tambahnya dengan dialek khas yang akrab.
Inovasi Sampah Plastik Jadi Sofa
Apresiasi khusus diberikan Gubernur kepada kelompok Ecofun NBS yang berhasil menyulap sampah plastik menjadi sofa berkualitas. Baginya, ini adalah solusi cerdas atas persoalan klasik perkotaan.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Gubernur Melki langsung memesan 3 set sofa hasil karya warga tersebut dan memerintahkan agar produk tersebut dipasarkan melalui gerai NTT Mart.
Wali Kota Kupang, Christian Widodo, menyambut hangat inisiatif ini. Ia menilai kehadiran Pemprov NTT memberikan suntikan semangat bagi warga Kota Kupang.
"Limbah yang tadinya mencemari lingkungan, kini punya nilai ekonomi tinggi di tangan masyarakat. Ini bukti pemerintah hadir di tengah rakyat," kata Christian.
Perluasan Jangkauan 2026
Sebagai informasi, pada tahun 2026 ini Pemprov NTT memperluas lokus bantuan hingga ke 160 desa/kelurahan kategori tertinggal dengan alokasi Rp300 juta per Perangkat Daerah pendamping. Di Nunbaun Sabu sendiri, Dinas PMD Provinsi NTT bertindak sebagai pendamping teknis.
Selain bantuan fisik, para pelaku usaha juga dibekali literasi keuangan terkait akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta transformasi pemasaran digital agar produk lokal NTT mampu menembus pasar nasional.
Editor: LL//gpi
Source: Biro Humas Prov NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar