KUPANG –07 Maret 2026, Sebuah manifesto kemarahan pecah dari tanah Nusa Tenggara Timur. Aliansi Pemuda Mahasiswa-NTT mengibarkan bendera perlawanan tepat di momentum Hari Perempuan Internasional. Mereka meluncurkan serangan verbal terhadap kepemimpinan Prabowo-Gibran yang mereka labeli sebagai "Rezim Fasis Anti-Rakyat."
Poin-Poin Prahara:
- Tragedi "Makan Gratis": Dokumen tersebut mengungkap angka mengerikan—21.254 orang diklaim menjadi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Januari 2026. Aliansi menuntut anggaran triliunan ini dikembalikan ke sektor pendidikan dan kesehatan.
- Ruang Pendidikan yang Berdarah: Kampus dituding bukan lagi menjadi benteng ilmu, melainkan "ladang subur" kekerasan seksual dan komersialisasi pendidikan melalui UKT yang mencekik.
- Perampasan Ruang Hidup: Dari Flores yang ditetapkan sebagai "Pulau Panas Bumi" hingga konflik tanah di Naibonat dan Pulau Kera, perempuan adat disebut kehilangan kedaulatan ekonomi dan dipaksa menjadi buruh migran yang rentan eksploitasi.
Tuntutan Pamungkas:
Dalam 16 poin tuntutannya, mereka mendesak pengesahan UU PRT, penghentian upah murah, hingga pembebasan tahanan politik tanpa syarat. Ini bukan sekadar seruan, melainkan peringatan keras bahwa perempuan kelas buruh dan tani tidak akan tinggal diam di bawah bayang-bayang kebijakan yang dianggap misoginis dan patriarkal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar