Jumat, 27 Maret 2026

Melki Laka Lena Tantang UNPAR: Jangan Hanya Teori, NTT Butuh Dokter dan Kedaulatan Energi!

KUPANG, PENA INDONESIA– Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa NTT bukan lagi sekadar objek studi atau pasar pendidikan. Dalam audiensi bersama Centre for Human Development and Social Justice (CHuDS) LPPM Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) di ruang kerjanya, Kamis (26/3), Melki menuntut kolaborasi nyata yang langsung menyentuh titik nadi masalah NTT: Krisis Tenaga Medis dan Kedaulatan Geotermal.

Pendidikan Bukan Sekadar Rekrutmen Mahasiswa
Merespons tawaran Willfridus Siga (UNPAR) mengenai Fakultas Kedokteran mereka yang memasuki tahun keempat, Gubernur Melki langsung memotong kompas. Baginya, urgensi NTT adalah kekurangan dokter spesialis dan tenaga kesehatan di wilayah pesisir yang masih memprihatinkan.

​Melki menekankan bahwa kerja sama dengan UNPAR harus memastikan anak-anak asli dari pelosok NTT mendapatkan akses, bukan sekadar menjadi target sosialisasi lulusan SMA. "Kita butuh dokter yang mau turun ke lapangan, dan kita butuh sistem yang memberikan kesempatan bagi putra daerah untuk memimpin perubahan di tanahnya sendiri," tegasnya.

Geotermal Flores: Jangan Abaikan Rakyat!
Provokasi positif muncul saat diskusi bergeser ke isu Geotermal di Flores. Di hadapan tim CHuDS (Mangadar Situmorang dkk), Gubernur mengingatkan bahwa energi bersih adalah masa depan, namun tidak boleh dibangun di atas air mata masyarakat.

​Melki memberikan "lima syarat mati" bagi pengembangan geotermal yang harus dikawal dalam FGD mendatang:

1. ​Teknis Pertambangan yang mumpuni.
​2. Lingkungan yang tetap terjaga.
3. ​CSR yang tepat sasaran.
4. ​Skema Bagi Hasil yang adil bagi daerah.
5. ​Keamanan sosial masyarakat.

​"Saya minta FGD ini jangan eksklusif. Libatkan Undana dan kampus lokal. Jangan biarkan masyarakat NTT hanya jadi penonton saat tanah mereka menghasilkan energi bagi dunia. Masyarakat harus jadi pelaku utama, bukan sekadar pelengkap penderita," ujar Melki dengan nada lugas.

Siapkan SDM atau Tertinggal
Gubernur menutup pertemuan dengan pesan keras: Kolaborasi dengan perguruan tinggi adalah kunci, tapi kualitas adalah harga mati. NTT sedang melakukan transisi energi besar-besaran dan pembenahan sektor kesehatan; jika kampus tidak sanggup menyiapkan SDM yang unggul dan siap pakai, maka kolaborasi hanyalah tumpukan kertas dokumen semata.

Penulis: Fara Therik
Foto: Librik Abineno
Editor: LL//gpi
Sumber: biro Administrasi pemerintahan setda Prov NTT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Secercah Harapan di Namosain: Saat Kemanusiaan Mengetuk Pintu Keluarga Nunbala

​ KUPANG, 15 April 2026 – Di sudut Kelurahan Namosain, Kota Kupang, angin laut membawa aroma garam yang kontras dengan sunyinya sebuah rum...