Rabu, 18 Maret 2026

Longsor Kolhua: Rumah Hancur Jadi Puing, BPBD Kupang Akhirnya Turun Tangan!

KUPANG, PENA INDONESIA — Bencana tanah longsor yang menghantam RT 033 RW 011, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa pada Senin (16/3/2026) malam, menyisakan puing dan trauma. Satu unit rumah permanen milik Nefri Lae luluh lantak diterjang pergeseran tanah setelah hujan ekstrem mengguyur wilayah tersebut. Merespons kondisi kritis korban, BPBD Kota Kupang akhirnya bergerak menyalurkan bantuan darurat pada Selasa (17/3/2026) malam.

​Kronologi: Detik-Detik Bangunan Roboh
​Gejala bencana ini sebenarnya bukan tanpa peringatan. Sejak Senin sore pukul 18.00 WITA, retakan-retakan tajam sudah mulai merayap di dinding rumah Nefri. Namun, upaya mandiri menutup retakan terbukti sia-sia.

​Puncaknya, pada Selasa dini hari sekitar pukul 03.00 WITA, struktur bangunan kehilangan kestabilan total. Tembok depan dan belakang roboh secara perlahan namun pasti. Beruntung, Nefri bersama istri dan kedua anaknya berhasil mengevakuasi diri sebelum bangunan benar-benar menjadi tumpukan material yang mematikan.

BPBD "Gedor" Lokasi Tengah Malam
​Pasca laporan kerusakan masuk, Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang, Ernest Ludji, S.STP., M.Si., memimpin langsung timnya menuju lokasi kejadian. Tepat pukul 22.10 WITA, bantuan logistik diserahkan langsung kepada keluarga korban sebagai langkah pemenuhan kebutuhan dasar di tengah kondisi darurat.

​"Kami hadir untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak bencana terpenuhi segera. Ini adalah bentuk kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah," tegas Ernest Ludji di hadapan keluarga korban.

​Dalam aksi tanggap darurat ini, Ernest didampingi tim teknis yang terdiri dari Dadi Manoe, Yap Koa, Aba Totos, Marthen Ena, serta Bendahara Barang BPBD, Mardiko Padabain.
​Rincian Bantuan: Dari Kasur hingga Alat Dapur
​Untuk menopang hidup keluarga Nefri di pengungsian sementara, BPBD menyalurkan paket logistik lengkap, di antaranya:

1. ​Perlengkapan Tidur: 3 kasur lipat, 4 lembar tikar, dan 4 selimut.

2. ​Peralatan Dapur: 1 unit kompor Hock dan satu boks peralatan masak lengkap.
​Sanitasi & Kesehatan: Paket Family Kit (sabun, P3K, jas hujan, lampu darurat) serta jeriken lipat.

3. ​Logistik Lain: 2 lembar terpal pelindung dan 1 buah tas sekolah untuk anak korban.

Catatan Tajam: Waspada Radius Bahaya!
​Meskipun bantuan logistik sudah tersalurkan, masalah besar belum usai. Lurah Kolhua, Silvester Helo, mencatat masih ada lima rumah warga lainnya yang berada dalam radius bahaya longsor susulan.

​Fakta bahwa wilayah ini sebelumnya tidak masuk dalam peta rawan longsor harus menjadi catatan merah bagi Pemkot Kupang. Curah hujan di Timor bagian barat masih sangat tinggi dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah jangan hanya sigap menyalurkan bantuan setelah rumah hancur, tapi juga harus berani melakukan pemetaan ulang dan mitigasi ekstrem sebelum korban jiwa benar-benar jatuh.

​Jangan abai: Rekahan tanah sekecil apa pun adalah alarm maut yang nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Secercah Harapan di Namosain: Saat Kemanusiaan Mengetuk Pintu Keluarga Nunbala

​ KUPANG, 15 April 2026 – Di sudut Kelurahan Namosain, Kota Kupang, angin laut membawa aroma garam yang kontras dengan sunyinya sebuah rum...