"Pawai ini bukan hanya milik umat Islam. Ini adalah pesta keberagaman warga Kota Kupang dan NTT. Semangat kebersamaan inilah bahan bakar utama pembangunan daerah kita," tegas Melki Laka Lena saat membuka acara.
Tradisi Tahunan yang Mengakar
Gubernur Melki secara eksplisit meminta agar Kupang Bertakbir tidak berhenti sebagai seremoni sesaat. Baginya, kegiatan yang diinisiasi generasi muda Islam ini telah menjadi kekayaan tradisi yang memperkuat khazanah inklusivitas di Bumi Flobamora.
"Acara ini patut dibuat setiap tahun. Kita perkuat persatuan tanpa harus membedakan suku dan agama. Di sini, tidak boleh ada bendera lain yang berkibar selain Merah Putih," cetus politisi Golkar tersebut dengan nada lugas.
Simfoni Toleransi di Kota Kasih
Ketajaman makna toleransi malam itu kian terasa saat panggung tidak hanya diisi oleh gema takbir. Kelompok Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Fransiskus Asisi BTN turut naik panggung, melantunkan lagu religi sebagai kado persaudaraan bagi umat Muslim yang merayakan Idulfitri.
Ketua Panitia, Nauril Firdaus Baleti, menegaskan bahwa pesan yang dikirim dari jantung Kota Kupang sangat jelas: perdamaian. "Kita merajut perbedaan menjadi harmoni. Dari Kota Kasih, kita beri contoh untuk Indonesia," ujarnya.
Dukungan Nyata Pemerintah
Meski sempat diterpa keraguan karena faktor cuaca, dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi NTT menjadi penentu terlaksananya acara ini. Ketua MUI Kota Kupang, H. Muhamad MS, mengapresiasi keberpihakan Gubernur yang memastikan syiar kemenangan ini tetap bergema.
"Dukungan Bapak Gubernur adalah bukti nyata bahwa beliau memandang NTT sebagai rumah bersama bagi seluruh umat beragama," ungkap H. Muhamad.
Acara yang berlangsung tertib ini juga dihadiri jajaran Forkopimda NTT, pimpinan Ormas Islam (Muhammadiyah & NU), serta tokoh lintas agama. Sebuah potret nyata bahwa di NTT, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekuatan untuk melangkah lebih jauh.
editor: LL//gpi
Sumber: Biro Administrasi pemerintahan prov NTT
#AyoBangunNTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar