Sabtu, 28 Maret 2026

Bicara di Kompas TV, Gubernur Melki Sebut NTT Mart Solusi Pangkas Defisit Perdagangan Rp51 Triliun

​KUPANG, PENA INDONESIA – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperkuat ekosistem ekonomi lokal melalui brand NTT Mart. Terobosan yang digagas di bawah kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena ini terbukti menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus solusi konkret bagi persoalan klasik pemasaran produk UMKM/IKM.

​Dalam wawancara eksklusif di program Jurnal Nusantara Kompas TV, Jumat (27/3/2026), Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa NTT Mart hadir bukan sekadar gerai toko, melainkan representasi jati diri NTT yang dikemas secara elegan dan modern.

Memangkas Defisit, Membuka Pasar Konvensional
​Gubernur Melki mengungkapkan latar belakang krusial di balik lahirnya NTT Mart. Berdasarkan data, NTT mengalami defisit perdagangan yang sangat besar, mencapai angka Rp51 triliun. Mirisnya, kontribusi terbesar berasal dari sektor kuliner dan produk-produk harian yang sebenarnya bisa diproduksi secara lokal namun selama ini justru didatangkan dari luar daerah.

​“Kami melihat produk UMKM/IKM di seluruh NTT sering kesulitan menembus pasar. Selama ini mereka hanya menjual antar-orang atau kelompok. Jarang sekali bisa masuk ke pasar konvensional atau toko modern. NTT Mart hadir untuk memutus rantai kendala itu,” ujar Melki langsung dari Gerai NTT Mart Jl. Palapa, Kupang.

Loncatan Ekonomi: Dari 3,73% ke 5,14%
​Sejak diluncurkan pada 12 Agustus 2025 lalu, dampak ekonomi NTT Mart mulai terlihat pada angka makro daerah. Berdasarkan data terbaru:

​1. Pertumbuhan Ekonomi NTT: Melonjak dari 3,73% menjadi 5,14%.

2. ​Sektor Industri Pengolahan: Mengalami kenaikan signifikan di atas 20%.

3. ​Kesejahteraan: Berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan dan peningkatan PAD.

​Gubernur menambahkan, di gerai pertama Kota Kupang saja, modal awal sebesar Rp160 juta telah menghasilkan perputaran uang hampir dua kali lipat. Hal ini memberikan kepastian bagi perajin dan pelaku usaha untuk berproduksi secara rutin tanpa rasa khawatir produk mereka tidak terserap pasar.

Strategi "Tiga Kaki" untuk Keberlanjutan
​Guna menjaga stabilitas pasokan produk di 22 kabupaten/kota, Pemprov NTT menerapkan strategi Tiga Kaki melalui program pemberdayaan berbasis komunitas:

​One Village One Product: Setiap desa/kelurahan wajib memiliki minimal satu produk unggulan.

​One School One Product: Mendorong sekolah (SMA/SMK/SLB) menghasilkan karya kreatif yang bernilai jual.

​One Community One Product: Melibatkan komunitas lintas agama (Gereja/Masjid) dan organisasi masyarakat.

Ekspansi Digital dan Diaspora
​Kesuksesan model bisnis ini menarik perhatian nasional. Menteri UMKM RI, Maman Abdurrahman, bahkan menyebut NTT Mart sebagai model perlakuan khusus yang ideal bagi UMKM. Saat ini, permintaan untuk membuka gerai NTT Mart mulai berdatangan dari diaspora di Bali, Jakarta, Surabaya, hingga ke luar negeri seperti Malaysia, Taiwan, dan Eropa.

​Untuk merespons tren tersebut, Pemprov NTT sedang menyiapkan langkah ekspansi ke ranah digital melalui platform e-commerce bekerja sama dengan Bank NTT.

​"Prinsipnya, kami ingin menampilkan jati diri NTT yang elegan dan mudah diterima. Jika UMKM maju, daerah pasti maju," pungkas Gubernur Melki.

Editor: LL//gpi
Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Secercah Harapan di Namosain: Saat Kemanusiaan Mengetuk Pintu Keluarga Nunbala

​ KUPANG, 15 April 2026 – Di sudut Kelurahan Namosain, Kota Kupang, angin laut membawa aroma garam yang kontras dengan sunyinya sebuah rum...