Kehadiran orang nomor dua di NTT ini bukan tanpa alasan. Ia ingin memastikan bahwa program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini benar-benar menyentuh kelompok paling rentan: balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Bukan Cuma Tugas Negara, Tapi Tugas Meja Makan
Dalam arahannya yang lugas, Wagub Johni menekankan bahwa intervensi pemerintah melalui MBG tidak akan maksimal tanpa dukungan penuh dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Ia mengingatkan para orang tua agar tidak "lepas tangan" hanya karena sudah ada bantuan pemerintah.
"Orang tua, mama dan bapak, punya tanggung jawab besar. Perhatikan asupan gizi anak sejak dini. Ikan, telur, dan sayur kelor itu murah dan mudah didapat, tapi nilai gizinya luar biasa untuk kecerdasan anak," tegas Johni di hadapan warga.
Prioritas Anggaran: Gizi di Atas Gengsi
Poin tajam lainnya yang disoroti Wagub adalah mengenai manajemen ekonomi rumah tangga. Ia meminta keluarga-keluarga di Sabu Raijua untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran. Menurutnya, pemenuhan gizi anak harus menjadi prioritas utama dalam anggaran rumah tangga.
"Kecerdasan anak adalah syarat mutlak kalau kita ingin NTT maju. Jadi, utamakan dulu gizi anak demi masa depan mereka, bukan untuk hal-hal lain yang kurang produktif," tambahnya.
Data dan Sasaran di Desa Raeloro
Berdasarkan laporan Pj. Kepala Desa Raeloro, Dicson Lobo Mone, program MBG di wilayahnya saat ini menyasar 187 penerima manfaat, yang terdiri dari:
1. 140 bayi dan balita.
2. 36 ibu menyusui.
3. 11 ibu hamil.
Penyaluran yang terorganisir di tingkat Posyandu diharapkan mampu memastikan bantuan ini merata dan tepat sasaran, sehingga target penurunan angka stunting di NTT dapat tercapai lebih cepat.
Langkah Wagub NTT turun ke lapangan menjadi pengingat bagi seluruh elemen pemerintah daerah untuk terus mengawal kualitas dan distribusi MBG. Harapannya, program ini tidak hanya mengisi perut, tetapi benar-benar mengubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya gizi.
Jika kolaborasi antara pemerintah yang menyediakan fasilitas dan orang tua yang menyediakan perhatian di rumah berjalan selaras, maka lahirnya generasi emas yang sehat, cerdas, dan berdaya saing dari tanah Sabu Raijua bukan lagi sekadar mimpi, melainkan kepastian.
Editor: LL//gpi
Source: Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar