Kunjungan ini jauh dari kesan seremonial kaku di balik meja kerja. Sebaliknya, aroma takjil dan tanah basah menjadi saksi kolaborasi pusat dan daerah.
Simfoni Toleransi di Halaman Katedral
Langkah kaki rombongan bermula di depan Gereja Katedral Kristus Raja. Di sana, UMKM Takjil Ramadhan berjejer rapi. Sebuah anomali yang indah: umat Muslim menjajakan hidangan berbuka tepat di depan rumah ibadah umat Katolik.
Prof. Akmal Malik tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Baginya, ini adalah potret asli Indonesia yang mulai langka. "Ini bukan sekadar slogan, ini budaya sosial yang sudah mendarah daging di Kupang," puji sang Dirjen.
Rumah Ibadah: Dari Tempat Sujud ke Pusat Ketahanan Pangan
Titik krusial kunjungan ini berlanjut ke Masjid Al-Ikhlas Bonipoi dan halaman GMIT Horeb Perumnas. Di sini, narasi ketahanan pangan tidak lagi dibahas di ruang seminar, melainkan diwujudkan lewat penanaman anakan pohon produktif.
Wali Kota Christian Widodo menegaskan visi barunya: menjadikan rumah ibadah sebagai motor penggerak ekonomi dan sosial.
"Rumah ibadah bukan hanya tempat untuk bersujud dan berdoa, tapi harus menjadi pusat pemberdayaan umat. Kita menanam pohon di masjid dan gereja sebagai simbol bahwa persaudaraan itu tumbuh lewat kerja nyata, bukan sekadar kata-kata," tegas dr. Christian.
Pernyataan ini sejalan dengan prestasi mentereng Kota Kupang yang berhasil menembus 10 Besar Indeks Kota Toleran Nasional. Bagi Christian, kerukunan adalah "bahan bakar" untuk membangun kemandirian pangan di tengah keterbatasan anggaran.
Ikhtiar adalah Doa yang Nyata
Senada dengan Wali Kota, Prof. Akmal Malik mendorong agar model ketahanan pangan berbasis rumah ibadah diperkuat dengan sentuhan teknologi, seperti pembangunan greenhouse percontohan.
"Doa terbaik adalah ikhtiar yang diwujudkan dengan langkah konkret. Menanam, beternak, dan memanfaatkan lahan tidur di sekitar rumah ibadah adalah bentuk ibadah sosial yang nyata," ujar Akmal Malik sebelum menutup hari dengan berbuka puasa bersama di Masjid Al-Ikhlas.
Kunjungan ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: di Kupang, perbedaan agama tidak pernah menjadi penghalang untuk bersama-sama mencangkul tanah demi masa depan perut rakyat yang lebih baik.
editor: dwn//gpi
Source: Prokopim Setda Kota Kupang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar