Di tengah guyuran hujan, momentum Hari Kasih Sayang tahun ini dimaknai sebagai gerakan literasi yang nyata. Berikut adalah poin-poin edukasi dan informasi strategis dari kegiatan tersebut:
1. Literasi sebagai Investasi Karakter
Literasi bukan lagi sekadar kemampuan mengeja huruf, melainkan bentuk kasih sayang orang tua dan lingkungan terhadap masa depan anak. Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Tanpa kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah, visi membangun generasi yang cerdas hanya akan menjadi wacana.
2. Tantangan Digital: Bijak Bermedia Sosial
Di era informasi yang deras, anak-anak dituntut tidak hanya gemar membaca buku, tetapi juga cerdas memfilter informasi. Penggunaan media sosial harus diarahkan pada hal positif. Literasi digital menjadi tameng utama agar generasi muda tidak tergerus oleh konten negatif, melainkan tumbuh menjadi pemimpin yang bijaksana.
3. Akses Inklusif hingga ke Pelosok
Upaya peningkatan kualitas SDM tidak boleh eksklusif di perkotaan. Melalui kolaborasi lintas sektor (Pemerintah dan Bank Indonesia), program edukasi interaktif seperti perpustakaan keliling akan diperluas hingga ke desa-desa. Targetnya jelas: pemerataan akses literasi bagi seluruh anak di NTT tanpa terkecuali.
4. Fokus pada Literasi Keluarga (Parenting)
Edukasi tidak berhenti di ruang kelas. Literas keluarga, terutama melalui pola asuh (parenting), menjadi kunci. Orang tua harus menjadi role model dalam membudayakan membaca di rumah agar anak memiliki daya saing yang kuat sejak dari lingkungan terkecil.
Esensi Kegiatan:
Gerakan ini melibatkan 100 siswa dan puluhan warga penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Ini adalah langkah konkret bahwa literasi adalah gerakan kepedulian. Kota Kupang yang maju hanya bisa terwujud jika dibangun oleh manusia-manusia yang literat, kritis, dan berkarakter.
EDITOR: dwn//gpi
SOURCE: Prokopim setda Kota Kupang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar