Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menegaskan bahwa kesehatan bukan sekadar layanan pengobatan, melainkan investasi produktivitas. Hal ini disampaikannya saat penandatanganan komitmen bersama dalam acara Gebyar Prolanis di halaman Rumah Jabatan Gubernur, Sabtu (31/1/2026).
Skrining Digital: Dari Ponsel ke Laboratorium
Poin krusial dalam kerja sama ini adalah pemanfaatan aplikasi Mobile JKN dan webskrining. Melki menjelaskan alur teknisnya: masyarakat melakukan deteksi mandiri secara digital. Jika sistem membaca hasil "berisiko", pasien diarahkan langsung ke laboratorium untuk pemeriksaan lanjutan sebelum kondisi memburuk.
Langkah ini menyasar penyakit "pembunuh senyap" yang sering terlambat ditangani, antara lain:
• Diabetes Melitus
• Hipertensi
• Gangguan Fungsi Ginjal
• Kolesterol Tinggi
Beban Biaya dan Standar Layanan
Kerja sama ini bukan sekadar seremonial. Dengan melibatkan BPJS Kesehatan, seluruh biaya skrining kesehatan dipastikan terjamin dan memiliki standar pelayanan yang merata. Tujuannya jelas: menghilangkan hambatan finansial bagi warga yang ingin memeriksakan kesehatan sejak dini.
Instruksi bagi Publik
Melki Laka Lena menekankan empat poin praktis bagi masyarakat NTT, termasuk ASN dan pensiunan:
1. Rutin Skrining: Jangan tunggu gejala muncul.
2. Status JKN: Pastikan kepesertaan aktif agar tidak terkendala saat butuh layanan.
3. Kontrol Bulanan: Manfaatkan FKTP (Puskesmas/Klinik) tempat terdaftar.
4. Gaya Hidup: Pola makan bergizi dan olahraga bukan lagi pilihan, tapi kewajiban.
"Kesehatan adalah modal utama profesionalitas. Orang sakit tidak bisa memberikan pelayanan publik yang optimal," tegas Melki. Pesan ini menjadi pengingat bahwa pencegahan jauh lebih murah dan efektif daripada pengobatan jangka panjang.
Editor: LL//gpi
Source: biro humas prov NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar