Kamis, 29 Januari 2026

Wagub Johni Asadoma Jemput Bola ke Badung dan Karangasem: "Kami Mohon Maaf, Mari Merajut Kembali Harmoni"

DENPASAR, Pena Indonesia – Sebuah langkah besar diambil Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memulihkan keretakan sosial yang sempat memicu ketegangan antara warga Diaspora NTT dan masyarakat lokal di Pulau Dewata. Tak sekadar retorika, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, turun langsung ke jantung persoalan dengan mengunjungi Kabupaten Badung dan Karangasem pada Kamis (29/1/2026).
​Langkah ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ini adalah sebuah misi "jemput bola" untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung atas ulah segelintir oknum yang sempat mencoreng citra masyarakat NTT di Bali.

​Kehangatan di Mangupura: Badung Tetap Terbuka
​Tiba di Kantor Bupati Badung, Wagub Johni disambut hangat oleh Sekda Badung, Ida Bagus Surya Suamba. Meski pertemuan berlangsung di tengah dinamika isu sosial yang memanas, suasana penuh kekeluargaan justru terasa kental.

​Sekda Ida Bagus menegaskan bahwa Badung adalah wilayah heterogen yang menjunjung tinggi kemajemukan. Ia mengakui kontribusi masyarakat NTT dalam pembangunan di Badung sangat besar.

​“Peristiwa yang terjadi belakangan ini adalah ulah individu, bukan masyarakat NTT secara keseluruhan. Masyarakat NTT selalu dibutuhkan dan banyak terlibat dalam setiap kegiatan pembangunan di Kabupaten Badung,” ungkap Ida Bagus.

​Permohonan Maaf dan Komitmen "Deportasi" Lokal
​Wagub Johni Asadoma tidak memberikan pembelaan bagi para pelanggar aturan. Di hadapan jajaran Pemkab Badung, ia menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas nama Pemerintah dan masyarakat NTT.

​Ada poin menarik yang ditekankan Wagub: Ketegasan. Ia menyatakan dukungan penuh bagi penegakan hukum terhadap oknum warga NTT yang berbuat kriminal.

​“Jika melanggar hukum, kami tegas dukung diproses. Bila perlu, jika menggunakan istilah internasional, kita 'deportasi' kembali ke daerah asal agar tidak membuat onar di daerah lain,” tegas Johni dengan nada serius.

​Ke depan, Pemprov NTT akan memperketat pengawasan administratif bagi warga yang hendak merantau. Surat keterangan dari RT/RW hingga pembekalan wawasan nusantara akan menjadi syarat wajib agar setiap perantau mampu beradaptasi dengan adat istiadat setempat.

​Menyisir Karangasem: Mengenang Sunda Kecil
​Usai dari Badung, rombongan bertolak ke timur menuju Kabupaten Karangasem. Di sana, Wakil Bupati I Wayan Pandu Prapanca Lagosa bersama tokoh adat telah menanti.
​Dalam dialog yang emosional, Wagub Johni mengingatkan kembali sejarah panjang antara Bali dan NTT yang dulu bernaung di bawah satu provinsi, Sunda Kecil.

​“Nila setitik, rusak susu sebelanga. Kami tidak ingin sejarah baik yang sudah terajut sejak Indonesia merdeka ini hancur karena ulah oknum. Kami ingin memperbaiki ini bersama-sama,” tuturnya.

​Apresiasi tinggi datang dari Jro Bendesa Desa Adat Selat, I Wayan Gede Mustika. Baginya, kehadiran pemimpin daerah dari NTT langsung ke desa-desa di Bali adalah langkah yang jarang terjadi dan sangat dihormati oleh masyarakat adat.

​Komitmen Harmoni: Babak Baru Bali-NTT
​Sebagai puncak dari upaya rekonsiliasi ini, Wagub Johni menginformasikan bahwa telah ditandatangani Komitmen Harmoni Kehidupan Bersama oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Gubernur Bali I Wayan Koster di Labuan Bajo sehari sebelumnya.

​Kesepakatan ini menjadi payung hukum dan moral bagi kedua provinsi untuk saling menjaga, menghormati, dan memastikan bahwa gesekan sosial tidak lagi terulang di masa depan. Bali dan NTT kini sepakat: persaudaraan di atas segalanya.

Editor: LL//gpi
Source: biro humas prov NTT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Secercah Harapan di Namosain: Saat Kemanusiaan Mengetuk Pintu Keluarga Nunbala

​ KUPANG, 15 April 2026 – Di sudut Kelurahan Namosain, Kota Kupang, angin laut membawa aroma garam yang kontras dengan sunyinya sebuah rum...