Bukan sekadar memberi sambutan pejabat, Johni hadir dengan kapasitas ganda: sebagai Wakil Gubernur sekaligus lulusan terbaik program Doktor Ilmu Administrasi dengan IPK nyaris sempurna, 3,95. Namun, di depan 1.038 wisudawan, ia justru membongkar data pahit yang membayangi para lulusan baru.
Tamparan Data: 7.000 Sarjana Menganggur
Tanpa eufemisme, Johni mengungkapkan bahwa saat ini tercatat sekitar 7.000 lulusan perguruan tinggi (S1 hingga S3) di NTT yang masih terjebak dalam daftar tunggu kerja alias menganggur. Ia memperingatkan agar ribuan wisudawan hari ini tidak hanya berpangku tangan pada ijazah.
"Kita tidak kekurangan orang pintar atau tumpukan teori. Yang kita butuhkan adalah generasi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi solusi nyata. Jangan jadi penonton di tengah kemelut daerah sendiri," tegas Johni lugas.
Mantan Kapolda NTT ini membedah "penyakit" kronis yang masih menghantui NTT:
• Angka kemiskinan yang tetap tinggi.
• Rendahnya produktivitas sektor riil.
• Krisis akses air bersih yang belum tuntas.
• Ekonomi daerah yang minim nilai tambah.
Menurutnya, potensi raksasa di sektor pertanian, kelautan, dan pariwisata NTT hanya akan menjadi catatan di atas kertas jika kaum intelektualnya tidak punya nyali untuk berinovasi.
Filosofi Catur: Keluar dari Sudut Nyaman
Senada dengan kegelisahan Wagub, Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, memberikan "tamparan" intelektual melalui orasi ilmiahnya. Menggunakan analogi bidak kuda dalam papan catur, Jefri meminta lulusan Undana tidak bergerak lurus atau linear.
"Kuda itu unik karena bisa melompati hambatan. Dia tidak bergerak kaku. Itu simbol out of the box. Kalau Anda hanya mau main aman, Anda akan habis digilas perubahan," ujar Jefri.
Jefri memberikan penekanan keras pada strategi penempatan diri:
1. Pusat Perubahan: Bidak kuda paling kuat saat berada di tengah papan karena menguasai 16 kotak. Artinya, lulusan harus berani terjun ke pusat persoalan masyarakat.
2. Sudut Kenyamanan: Kuda yang berdiam di pojok papan adalah bidak lemah. Alumni yang hanya mencari zona nyaman hanya akan menjadi beban dan menghambat kontribusi bagi bangsa.
Garis Start, Bukan Finish
Seremoni wisuda kali ini menjadi pengingat keras bagi para lulusan bahwa toga yang mereka kenakan hanyalah tiket masuk ke medan tempur yang sesungguhnya. Redaksi mencatat, tantangan transformasi ekonomi NTT membutuhkan eksekutor, bukan sekadar komentator bertitel akademik.
"Lulusan Undana tidak dididik untuk menonton. Jadilah bagian dari jawaban, atau kalian hanya akan menambah panjang daftar pengangguran," pungkas Johni Asadoma.
Memutus Euforia, Memulai Eksekusi
Pemberitaan ini membawa harapan besar agar lulusan Undana mampu memutus rantai euforia semu dan segera berhadapan dengan realita. Di tengah ancaman pengangguran intelektual, alumni dituntut beralih paradigma dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta solusi atas persoalan akut di NTT. Harapannya, gelar akademik yang diraih tidak berakhir menjadi pajangan dinding, melainkan menjadi amunisi moral dan intelektual untuk membawa NTT keluar dari zona kemiskinan melalui inovasi yang nyata, jujur, dan berani keluar dari zona nyaman.
Laporan: LL//Redaksi Pena Indonesia
Source: biro Humas prov NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar