KUPANG, Pena Indonesia – Isu Pekerja Migran Indonesia (PMI) mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Kupang. Meski banyak PMI yang berangkat melalui wilayahnya bukan merupakan penduduk asli kota, Wali Kota dr. Christian Widodo menegaskan komitmennya untuk memberikan perlindungan dan pembekalan maksimal bagi para pahlawan devisa tersebut.
Dalam Rapat Penanganan PMI bersama Menteri P2MI dan Gubernur NTT, Selasa (20/1), dr. Christian menyampaikan bahwa Pemkot Kupang memegang tanggung jawab moral untuk memastikan setiap PMI memiliki kapasitas yang mumpuni sebelum terbang ke luar negeri.
Fokus pada Skill dan Kemandirian Ekonomi
“Pemkot Kupang fokus pada pelatihan keterampilan bagi calon PMI serta pemberdayaan ekonomi bagi mereka yang telah kembali (purna), agar mereka mampu hidup mandiri dan produktif,” ujar dr. Christian Widodo.
Bentuk dukungan nyata yang telah disiapkan antara lain:
•Wadah Ekonomi Kreatif: Ruang usaha melalui Sunday Market Buat Orang Kupang (SABOAK) dan penyediaan container booth UMKM.
•Akses Permodalan: Kerja sama dengan Bank NTT untuk fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi para purna PMI yang ingin merintis usaha.
Perkuat Satgas dan Pendampingan Psikologis
Selain pemberdayaan, Wali Kota juga mendorong penguatan Satgas Penanganan PMI Ilegal lintas sektor. Ia menekankan pentingnya akses petugas ke fasilitas strategis seperti bandara dan pelabuhan guna memutus rantai mafia pengiriman tenaga kerja ilegal.
Tak hanya itu, ia mengusulkan pembentukan komunitas purna pekerja migran. Komunitas ini diharapkan menjadi ruang bagi para purna PMI untuk mendapatkan pendampingan psikologis serta kemudahan administrasi kependudukan pasca-kepulangan.
Sinergi Mencegah Tragedi
Senada dengan Wali Kota, Gubernur NTT Melki Laka Lena mengingatkan pentingnya kerja sama semua pihak agar tidak ada lagi PMI yang pulang dalam kondisi tak bernyawa akibat berangkat tanpa prosedur resmi (ilegal).
Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kota, Provinsi, dan Pusat, Kota Kupang diharapkan menjadi simpul utama perlindungan pekerja migran yang lebih manusiawi dan bermartabat.
Editor: dwn//gpi
Penulis: Ansel Ladjar
Foto: Tonny Ga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar