KUPANG, Pena Indonesia – Kursi kepemimpinan PT Kawasan Industri Bolok (KIB) tampaknya benar-benar menjadi "kursi panas" yang menguras energi. Belum genap 24 jam setelah ditetapkan sebagai Plt Direktur Utama, Odermaks Sombu secara mengejutkan memilih mundur. Tak ingin roda transformasi Perseroda "mati mesin", Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena langsung melakukan manuver cepat dengan menunjuk Jhony Ericson Ataupah sebagai nakhoda baru.
Drama suksesi ini memuncak dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) darurat yang digelar di Hotel Sasando, Rabu (21/1/2026) sore. Langkah "ganti gigi" ini diambil untuk memastikan agenda besar pembersihan BUMD tersebut tidak terhambat oleh kendala teknis maupun personal.
Plot Twist di Sasando: Kesehatan Jadi Alasan
Keputusan Odermaks Sombu untuk meletakkan jabatan sesaat setelah ditunjuk memang memicu tanya di ruang publik. Namun, Gubernur Melki segera memberikan klarifikasi tajam agar isu tidak berkembang liar. Alasan kesehatan yang membutuhkan masa pemulihan menjadi dasar utama Odermaks menarik diri dari tanggung jawab besar tersebut.
“Kondisi kesehatan dan pertimbangan keluarga membuat beliau tidak memungkinkan melanjutkan tugas. Kita butuh gerak cepat, karena itu kekosongan ini harus segera diisi,” tegas Melki dengan nada bicara yang mengisyaratkan bahwa KIB tidak punya waktu untuk sekadar menunggu.
Tugas Berat Jhony Ataupah: Bukan Sekadar Pengisi Kursi
Masuknya Jhony Ericson Ataupah sebagai Plt Direktur Utama bukan tanpa beban. Gubernur Melki langsung memberikan "perintah operasi" yang jelas: bedah total aturan main perusahaan. Jhony diinstruksikan untuk segera melakukan perbaikan pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PT KIB.
Targetnya ambisius dan pedas: penguatan kelembagaan dan penerapan tata kelola yang benar-benar bersih. Gubernur tidak ingin ada lagi celah bagi manajemen yang tidak tertib. Ini adalah sinyal bahwa Pemprov NTT sedang melakukan "operasi jantung" pada perusahaan yang selama ini menjadi sorotan publik tersebut.
Komitmen Tanpa Kompromi
Pergantian kilat ini membuktikan satu hal: di bawah kepemimpinan Melki Laka Lena, keberlanjutan operasional KIB adalah harga mati. Langkah transisi menuju pengurus definitif tetap berjalan di jalur cepat demi menggerakkan potensi ekonomi NTT yang selama ini seolah terbelenggu.
Publik kini menanti, apakah Jhony Ataupah mampu bertahan di tengah tekanan transformasi yang begitu tinggi, ataukah Bolok masih akan menyimpan kejutan-kejutan lain dalam proses "bersih-bersih" manajemennya? Satu yang pasti, Pena Indonesia akan terus mengawal setiap jengkal perubahan di kawasan industri kebanggaan NTT ini.
penulis: Baldus Sae
Editor: LL//gpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar