Jumat, 23 Januari 2026

Fatusuba dan Rahasia Gua Jepang: Langkah Melki Laka Lena Membangun Wisata Sejarah NTT dari Jejak Poros Dunia

KUPANG, Pena Indonesia – Di balik rimbunnya vegetasi Bukit Fatusuba, Dusun Bonen, tersimpan fragmen sejarah yang nyaris membeku oleh waktu. Kamis (22/1/2026) pagi, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menapaki jalur setapak di Desa Baumata tersebut untuk meninjau Situs Gua Jepang—sebuah labirin pertahanan masa silam yang kini disiapkan menjadi magnet baru wisata sejarah NTT.
​Bagi Gubernur Melki, kunjungan ini bukan sekadar seremoni tinjauan lapangan. Ia membawa misi besar untuk meletakkan NTT kembali dalam peta strategis dunia, berkaca pada jejak sejarah Perang Dunia II yang terekam di Fatusuba.

​"Situs ini adalah bukti otentik bahwa NTT, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan, memiliki posisi yang strategis dalam konstelasi global," ujar Melki di sela-sela peninjauannya.

​Didampingi Kepala BPK Wilayah XVI, Haris Budiharto, serta jajaran terkait, Melki menegaskan komitmennya untuk mengeksekusi arahan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Penataan kawasan ini akan dilakukan secara bertahap, mulai dari aksesibilitas hingga estetika situs, tanpa menghilangkan nilai historisnya.

Lebih dari Sekadar Lubang di Bukit
Gubernur Melki menginginkan narasi yang lebih kuat bagi generasi muda. Ia tak ingin situs ini hanya dipandang sebagai deretan gua tua, melainkan laboratorium hidup bagi para siswa.

​“Kita ingin ketika orang bertanya mau wisata ke mana saat di Kupang, salah satu jawaban utamanya adalah wisata sejarah Gua Jepang ini,” katanya optimis. Ia mendorong sekolah-sekolah menjadikan Fatusuba sebagai destinasi edukatif agar anak muda NTT paham bahwa tanah mereka pernah menjadi poros penting pertahanan dunia.

​Secara teknis, potensi situs ini memang luar biasa. Haris Budiharto menjelaskan bahwa berdasarkan kajian arkeologis, terdapat sekitar 15 gua dengan 123 titik pertahanan yang saling terhubung di wilayah Dusun Bonen. “Ini adalah sistem pertahanan kompleks masa pendudukan Jepang. Tugas kami adalah melestarikan sekaligus memanfaatkannya agar berdaya guna,” jelas Haris.

Harapan Ekonomi di Balik Cagar Budaya
Senada dengan visi gubernur, Kepala BPS NTT, Mira Kale, melihat ada peluang ekonomi yang besar di balik pelestarian ini. Baginya, infrastruktur yang mumpuni menuju situs sejarah akan menciptakan efek domino bagi ekonomi warga Desa Baumata. Wisatawan yang datang bukan hanya membawa rasa ingin tahu, tapi juga menggerakkan roda usaha lokal.

​Perjalanan Melki Laka Lena ke Bukit Fatusuba pagi itu seolah mengirim pesan kuat: NTT tidak sedang membangun masa depan dengan melupakan masa lalu. Justru dari lubang-lubang gua sejarah itulah, pondasi kebanggaan dan ekonomi baru NTT sedang digali kembali.

Editor: LL//gpi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Secercah Harapan di Namosain: Saat Kemanusiaan Mengetuk Pintu Keluarga Nunbala

​ KUPANG, 15 April 2026 – Di sudut Kelurahan Namosain, Kota Kupang, angin laut membawa aroma garam yang kontras dengan sunyinya sebuah rum...