Pembukaan sidang juga dihadiri oleh Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi NTT, Semuel Halundaka, S.IP,M.Si, Sekretaris Sinode GMIT Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, M.Si, para pendeta, majelis jemaat dari 35 gereja, Anggota DPRD Kota Kupang, Dance Bistolen, serta tokoh masyarakat setempat. Turut mendampingi Wawali adalah Plt Camat Maulafa dan Lurah Kolhua.
Dalam sambutannya, Wawali mengucapkan apresiasi atas terselenggaranya sidang yang dinilainya bukan hanya agenda tahunan, melainkan ruang untuk menyatukan hati dan membuat langkah pelayanan gereja yang lebih relevan.
“Dunia sedang menghadapi krisis moral, ekonomi, dan sosial. Karena itu, gereja harus tidak hanya kuat dalam ibadah, tetapi juga beraksi nyata. Iman tanpa perbuatan adalah mati,” tegasnya.
Serena juga menyebutkan bahwa selama satu dekade terakhir, Kota Kupang konsisten masuk daftar kota paling toleran di Indonesia, dan mendapatkan penghargaan sebagai Kota Cinta Damai dan Inklusif dari Kompas TV. Menurutnya, prestasi ini bukan hanya kerja pemerintah, tetapi hasil kerja sama seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja dan tokoh agama.
Selain itu, ia memberikan pesan penting tentang tantangan generasi muda di era digital. “Anak-anak kita hidup di tengah banyak informasi. Gereja dan pemerintah harus bekerja sama menjaga kesehatan mental, moral, dan karakter generasi yang akan memimpin kota ini nanti,” ujarnya.
Serena mengajak semua peserta sidang untuk membuat program-program yang bukan hanya administratif, tetapi benar-benar berdampak bagi jemaat dan masyarakat. Ia berharap sidang menghasilkan keputusan yang membuat gereja tetap menjadi terang dan solusi atas berbagai masalah sosial.
Sementara itu, Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, M.Si, dalam sambutannya mengingatkan bahwa gereja harus menjadi komunitas yang mau belajar dan peka terhadap perubahan zaman, termasuk isu lingkungan, HIV/AIDS, teknologi, dan tantangan etika digital.
Ketua Panitia, Maxi Buifena, dalam laporannya menyampaikan bahwa sidang akan berlangsung selama tiga hari dengan tema: “Lakukan Keadilan, Cintai Kesetiaan, dan Hiduplah Rendah Hati di Hadapan Allah.” Ia mengajak seluruh jemaat saling menopang agar sidang berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang membawa perbaikan bagi pelayanan gereja.
Dia berharap Sidang Klasis Kota Kupang Timur ke-8 menjadi ruang untuk merenungkan, mengevaluasi, dan memperkuat pelayanan gereja, demi menciptakan Kota Kupang yang lebih rukun, kuat, dan penuh harapan.
Edit: dwn//gpi
Sumber: prokopim Kota Kupang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar