PERSANI merupakan lembaga perkumpulan penyandang disabilitas yang bertujuan mewujudkan kesetaraan dan pembangunan inklusif di NTT, khususnya Kota Kupang. Sebagai mitra PLAN Indonesia lewat program CERAH, lembaga ini berupaya mendorong partisipasi perempuan, kaum muda, dan penyandang disabilitas sebagai agen perubahan dalam pengelolaan air dan lahan berkelanjutan di kota tersebut.
Dalam 3 tahun ke depan, tim PLAN Indonesia berencana bekerja di 14 kelurahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Liliba, Kalidendeng, Fatufeto, Fontain, Bakunase, Oesapa, dan Tuak Daun Merah (TDM). Sebelumnya, tim sudah melakukan workshop pengembangan rencana aksi. Target total proyek di Sumbawa dan Kupang adalah 203.000 jiwa, dengan Kupang sendiri ditargetkan 159.000 jiwa untuk informasi secara offline (tidak terhitung informasi online).
Lokasi tersebut dipilih karena masyarakat kesulitan mendapatkan air — bahkan sumur bor pun sulit menghasilkan air. Dari studi EHRA 2023, 40,6% masyarakat mengandalkan sumur gali yang berisiko terkontaminasi ecoli akibat septic tank bocor (hanya dicor bagian atas dan tidak kedap air). Tren penggunaan air galon juga menjadi masalah karena beberapa perusahaan tidak mengganti filter dan ditemukan jentik nyamuk di dalam.
Kegiatan proyek meliputi studi kebocoran (77 titik di Kupang) dan delineasi air bersama PAM, serta pembentukan Forum Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu pertama kali di kota untuk mengumpulkan OPD dan mitra agar tidak bekerja sendiri. Selain itu, ada penanaman pohon terstruktur (lubang 30x30 cm, jarak sesuai UPTKPH) oleh warga sukarela (hampir 300 lubang tanpa dibayar), pembuatan biopori sederhana dengan bambu (digali 50 cm karena tanah porus), edukasi septic tank kedap air, pemberdayaan penyandang disabilitas melalui penelitian tindakan partisipatif, dan penekanan pada pemeliharaan pohon.
PLAN juga siap berkolaborasi dengan media (bukan hanya peliputan, tapi acara bersama), kampus (magang mahasiswa, kolaborasi di expo PBL), dan komunitas. Menyadari bahwa upaya implementasi kurang berdampak luas tanpa dukungan kerja sama, gathering ini diadakan untuk menjalin kemitraan dengan pihak-pihak yang juga memperhatikan isu ini.
Terkait peliputan media, PLAN memiliki SOP yang menekankan pedoman safeguarding (perlindungan) anak: untuk liputan bersama anak di bawah 18 tahun, akan didampingi agar identitas terjaga (hanya nama depan, tidak alamat lengkap/desa, tidak foto seragam khas). Meskipun menjadi tantangan untuk redaksi, hal ini tidak akan membatasi kreativitas media, hanya berfokus pada keamanan privasi anak.
PLAN berdiri sejak 1969, dan yayasan sendiri baru berdiri tahun 2017. Di NTT, ada 4 kantor (Kupang, SOE, Lembata, Nagekeo). Baru dalam 3-4 tahun terakhir, PLAN mulai merasa pentingnya kerja sama dengan media, dengan keyakinan bahwa media memiliki pengaruh lebih besar dan bertanggung jawab dalam pemberitaan.
Sesi sharing ini berhasil mengangkat isu air bersih yang krusial dan membuka peluang kolaborasi luas. Harapannya, kerja sama antara PLAN, media, kampus, dan masyarakat bisa memberikan solusi realistis, mendukung kebutuhan redaksi, dan mencapai target 159.000 jiwa offline di Kupang dalam 3 tahun ke depan — sehingga menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Penulis: LL//gpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar