KUPANG, PENA INDONESIA – Gelaran Kupang Lampion Food Street Market 2026 resmi berakhir pada Minggu (8/3) malam dengan catatan prestasi yang gemilang. Selama tiga hari pelaksanaannya di sepanjang Jalan El Tari, event ini tidak hanya menjadi magnet hiburan, tetapi juga panggung pembuktian kekuatan ekonomi kreatif dan toleransi di Nusa Tenggara Timur.
Emanuel Melkiades Laka Lena: "Wadah Pertumbuhan Ekonomi Lokal"
Rangkaian acara ini dibuka secara resmi pada Jumat (6/3) oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena. Dalam sambutannya, Gubernur Melki memberikan apresiasi tinggi kepada PSMTI NTT yang telah menginisiasi puncak perayaan Imlek 2577 Cap Go Meh ini.
"Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat melihat bagaimana semangat kolaborasi lintas komunitas mampu memperkuat harmoni sosial sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat," ujar Gubernur Melki.
Beliau menekankan bahwa festival ini bukan sekadar rekreasi, melainkan wadah bagi UMKM dan komunitas kreatif untuk naik kelas. "Kiranya semangat kebersamaan lintas iman ini terus kita pelihara sebagai fondasi dalam membangun NTT yang damai, rukun, serta sejahtera," pungkasnya.
Catatan Transaksi Fantastis Menembus Rp1 Miliar
Ketua Panitia, dr. Andree Hartanto, Sp.OG, sejak awal telah memprediksi perputaran uang yang besar. Dengan keterlibatan sekitar 70 hingga 80 stand UMKM yang statusnya sold out (bahkan hingga ada daftar tunggu), estimasi transaksi harian mencapai Rp500 juta.
"Total transaksi selama tiga hari diperkirakan mendekati Rp1 miliar. Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti tahun ini saja, tapi menjadi agenda tahunan dalam Calendar of Event pariwisata NTT," lapor dr. Andree.
Senada dengan itu, Ketua PSMTI NTT, Hengky Lianto, menegaskan bahwa perayaan budaya ini kini telah menjadi milik seluruh masyarakat. "Lampion yang bersinar menjadi simbol persaudaraan. Melalui keberagaman, kita menikmati kekayaan kuliner sebagai jati diri masyarakat NTT," ungkapnya.
Wali Kota Christian Widodo: "UMKM Adalah Panglima Ekonomi Kita"
Pada malam penutupan, Minggu (8/3), Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, hadir memberikan penguatan. Ia menegaskan bahwa sektor jasa dan perdagangan adalah tumpuan utama Kota Kupang karena minimnya hasil bumi.
"UMKM adalah denyut nadi ekonomi di Kota Kupang. Selama tiga hari ini, kegiatan ini telah menggerakkan ekonomi kita. Kalau tahun depan mau dibuat lagi, boleh juga dua kali setahun. Tidak harus saat Imlek. Bisa festival makanan saat Natal atau momen lainnya," tantang dr. Christian disambut tepuk tangan warga.
Ia juga memaknai filosofi Tahun Kuda Api sebagai semangat kerja keras dan transformasi. Mengenai tema "Harmoni dalam Keberagaman", ia menyebut warga Kupang adalah warna-warni di atas kanvas. "Jika disusun dengan baik, maka akan menjadi lukisan indah bernama Kota Kupang yang maju," ujarnya puitis.
Pesan Kebersamaan dari Tokoh NTT
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, yang turut hadir dalam penutupan, juga mengingatkan bahwa UMKM menyumbang 60 persen terhadap ekonomi daerah. Ia mengajak masyarakat untuk memelihara ruang publik sebagai tempat tumbuhnya kreativitas.
Acara ini dihadiri oleh deretan tokoh penting, mulai dari Anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto, Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni, hingga perwakilan Konsul Jenderal RRT di Denpasar, yang semuanya sepakat bahwa lampion di El Tari adalah simbol harapan baru bagi ekonomi rakyat.
Editor: team redaksi Garis Pena Indonesia
Source: biro Humas prov NTT dan prokopimda kota Kupang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar