Selasa, 03 Maret 2026

Christian Widodo: Inflasi Itu Soal Harga Cabai di Dapur, Bukan Sekadar Angka Statistik!

KUPANG, PENA INDONESIA – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, mengingatkan seluruh jajaran dan pemangku kepentingan bahwa persoalan inflasi bukan sekadar deretan angka di atas kertas laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Baginya, fluktuasi harga adalah urusan "perut" rakyat yang harus dijaga dengan langkah konkret, bukan sekadar diskusi di atas meja. 

​"Kalau kita peras, inflasi itu soal stabilitas. Inflasi itu soal harga cabai di dapur, harga beras di pasar, hingga minyak goreng di rumah. Ini menyangkut langsung ongkos hidup masyarakat kecil," tegas dr. Christian saat membuka High Level Meeting (HLM) TPID dan TP2DD Triwulan I Tahun 2026 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT, Selasa (3/3).

Menantang Badai dengan "Layar" Digitalisasi
​Di hadapan unsur Forkopimda, perbankan, dan pelaku usaha, Wali Kota menekankan dua pilar utama penggerak ekonomi: stabilitas dan peningkatan produksi. Jika inflasi adalah penjaga stabilitas, maka digitalisasi adalah mesin kemajuan.

​Menariknya, dr. Christian mengibaratkan transformasi digital seperti menghadapi cuaca di laut lepas. "Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa mengubah layar kita. Dunia bergerak ke digital, kita harus beradaptasi," ujarnya filosofis.

​Sebagai aksi nyata, Pemkot Kupang resmi meluncurkan digitalisasi pajak daerah menggandeng BNI, BRI, dan Mandiri. Langkah ini disebutnya sebagai revolusi budaya birokrasi—memangkas jalur manual yang lamban menuju sistem yang transparan dan akuntabel.

Waspada "Efek Kejut" Menjelang Hari Raya
​Bukan tanpa alasan sang Wali Kota bersikap tegas. Data BPS menunjukkan inflasi Kota Kupang merangkak naik dari 3,55 persen di Januari menjadi 4,01 persen (yoy) pada Februari 2026. Dengan rentetan hari besar seperti Nyepi, Paskah, dan Idul Fitri yang sudah di depan mata, ia memerintahkan jajarannya untuk tidak lengah.

​Selain operasi pasar murah dan sidak distributor, dr. Christian juga memastikan stok BBM aman melalui koordinasi dengan Pertamina guna meredam panic buying akibat isu global.
​Senada dengan hal tersebut, Kepala Perwakilan BI NTT, Adidoyo Prakoso, menjelaskan bahwa kenaikan inflasi Februari banyak dipicu oleh tarif listrik dan emas perhiasan. "Tanpa komponen listrik, inflasi kita sebenarnya masih di angka 2,19 persen, masih dalam sasaran nasional," ungkap Adidoyo.

Sinergi Bandara dan Gerbang Ekonomi
​Tak hanya soal pasar, pertemuan strategis ini juga diwarnai penandatanganan MoU dengan Angkasa Pura Indonesia terkait peniadaan BPHTB untuk pengembangan Bandara El Tari.

​"Bandara adalah wajah kota dan gerbang ekonomi. Dengan sinergi ini, kita sedang membuka pintu lebih luas bagi investasi dan pariwisata," tambah dr. Christian.

​Pertemuan maraton ini turut menghadirkan paparan dari Bulog NTT, Pelindo, Satgas Pangan Polda NTT, hingga akademisi Undana. Targetnya satu: memastikan stabilitas harga terjaga dan transformasi digital bukan sekadar slogan, melainkan solusi nyata bagi kesejahteraan warga Kota Kasih.


Editor: dan//gpi
SOURCE: prokopim setda kota Kupang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wagub Johni Asadoma: Jangan Tunggu Sekarat, Deteksi Dini Kanker Itu Harga Mati!

KUPANG, Pena Indonesia – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, melempar peringatan keras kepada warga, khususnya kaum perempuan di NTT. Pesanny...