Kamis, 12 Maret 2026

Cegah Stunting dari Dapur: Langkah 'Jemput Bola' Wali Kota Kupang Amankan Gizi Generasi Emas

KUPANG, PENA INDONESIA – Masa depan sebuah bangsa seringkali tidak hanya ditentukan oleh megahnya infrastruktur atau angka-angka pertumbuhan ekonomi yang rumit. Bagi Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, fondasi peradaban justru diletakkan di tempat yang paling mendasar: di atas piring makan anak-anak sekolah.

​Pesan bernada filosofis namun taktis ini disampaikan dr. Christian saat menghadiri Dialog Percepatan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kepala Dinas Kesehatan se-Provitnsi NTT di Hotel Aston Kupang, Kamis (12/3).

​Investasi dalam Sepiring Makanan
​Sebagai seorang klinisi, dr. Christian menekankan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar rutinitas pembagian makanan. Baginya, ini adalah investasi jangka panjang untuk kualitas kognitif dan fisik generasi mendatang.

​"Dalam sepiring makanan anak-anak kita, sesungguhnya tersimpan harapan bangsa. Nutrisi yang baik adalah bahan bakar utama lahirnya generasi yang kuat dan bermartabat," tegasnya di hadapan Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah 3 BGN, Ranto, serta para pemangku kepentingan kesehatan se-NTT.

​Namun, ia mengingatkan bahwa gizi tinggi saja tidak cukup. Keamanan pangan adalah harga mati. Di sinilah SLHS mengambil peran vital.

​"Bagi saya, SLHS bukan sekadar dokumen administratif atau pajangan di dinding. Ini adalah kontrak kepercayaan kepada masyarakat. Ada tanggung jawab moral bahwa setiap suap yang dimakan anak-anak kita benar-benar aman dan higienis," tambahnya.

Kota Kupang Memimpin di Garis Depan
​Bukan sekadar retorika, komitmen dr. Christian dibuktikan dengan data nyata. Kota Kupang tercatat sebagai daerah dengan progres tercepat dalam sertifikasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

​Hingga 11 Maret 2026, dari total 36 SPPG di Kota Kupang, sebanyak 34 unit atau hampir seluruhnya telah mengantongi sertifikat SLHS. Dua unit sisanya hanya tinggal menunggu hasil laboratorium dan pemberkasan akhir.

​Capaian impresif ini, menurut dr. Christian, adalah buah dari strategi "jemput bola" yang diterapkan Dinas Kesehatan Kota Kupang. "Kita instruksikan tim untuk responsif dan proaktif. Jangan menunggu pengelola datang, tapi kita yang mendampingi agar standar kesehatan terpenuhi tanpa birokrasi yang berbelit," jelasnya.

​Menatap Celah Stunting: Fokus ke PAUD dan Posyandu
​Meski sukses di level sekolah, Wali Kota yang dikenal komunikatif ini memberikan catatan khusus terkait perluasan cakupan program. Ia mendorong agar Program MBG lebih agresif menyasar anak-anak di level PAUD dan Posyandu.

​"Capaian di sekolah sudah sangat baik, tapi jangan lupa pada 'usia emas' di PAUD dan Posyandu. Ini adalah garda terdepan kita dalam memutus rantai stunting di Kota Kupang," ungkap dr. Christian.

Sinergi Nasional
​Senada dengan Wali Kota, Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah 3 BGN, Ranto, menegaskan bahwa kepatuhan higiene adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Secara nasional, BGN mencatat telah ada sekitar 25 ribu unit SPPG. Khusus di NTT, dari target 585 dapur, telah berdiri 242 unit dengan progres sertifikasi yang terus digenjot menuju angka 100% pada tahun 2026.

​Dialog ini diakhiri dengan semangat harmoni. dr. Christian berharap perbedaan tantangan di setiap kabupaten di NTT justru menjadi simfoni yang memperkuat langkah bersama. Karena pada akhirnya, kesehatan anak-anak NTT adalah tanggung jawab kolektif yang tak mengenal batas wilayah.

Editor: dwn//gpi
Sumber: prokopim setda kota Kupang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wagub Johni Asadoma: Jangan Tunggu Sekarat, Deteksi Dini Kanker Itu Harga Mati!

KUPANG, Pena Indonesia – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, melempar peringatan keras kepada warga, khususnya kaum perempuan di NTT. Pesanny...