Senin, 02 Februari 2026

​Membentuk Karakter Lewat Kasih: Refleksi Pesta St. Yohanes Don Bosko di Kupang

KUPANG, Pena Indonesia – Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan upaya membentuk manusia seutuhnya. Pesan kuat ini menjadi inti dari kehadiran Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam syukuran Pesta Pelindung Santo Yohanes Don Bosko di SDK Don Bosko Kupang, Sabtu (31/1/2026).

​Berlangsung di kompleks Gereja Sta. Maria Assumpta, acara ini bukan sekadar seremoni tahunan. Perayaan ini menjadi momentum penguatan fondasi pendidikan karakter bagi generasi muda NTT.

Pendidikan Karakter: Akal Diasah, Hati Dibentuk
​Dalam arahannya, Melki Laka Lena menyoroti relevansi metode pendidikan Santo Yohanes Don Bosko di era modern. Menurutnya, sosok pelindung sekolah tersebut adalah teladan pendidik yang mengedepankan kasih, kesabaran, dan persahabatan.

​"Pendidikan ala Don Bosko menempatkan anak sebagai pribadi utuh. Di sini akal diasah, hati dibentuk, dan karakter dikuatkan," ujar Melki.

​Gubernur menekankan bahwa literasi dan numerasi adalah "kunci" masa depan, namun harus dibarengi dengan kebijaksanaan. Literasi bukan hanya soal bisa membaca, tapi kemampuan berpikir kritis dan bertindak bijak atas informasi yang diterima.

Inovasi Lewat "One School One Product"
​Salah satu poin strategis yang ditekankan adalah dorongan bagi Yayasan Swasti Sari untuk mengadopsi pendekatan One School One Product. Program ini dirancang bukan hanya untuk kemandirian ekonomi sekolah, tetapi sebagai laboratorium nyata bagi siswa untuk belajar:
1. ​Kewirausahaan sejak dini.
​2. Kemandirian dalam mengelola potensi lokal.
3. ​Kreativitas dalam menciptakan nilai tambah.

Dari Siswa Menjadi Pemimpin
​Suasana hangat terasa saat anak-anak SDK Don Bosko menyambut Gubernur dengan tarian tradisi Ende. Melki, yang hadir bersama perwakilan Pemkot Kupang, memberikan motivasi besar kepada para siswa. Ia mengingatkan bahwa banyak pemimpin besar—termasuk dirinya dan Wali Kota Kupang—adalah alumnus sekolah ini. Ia berharap generasi saat ini bisa tumbuh lebih hebat melampaui para pendahulunya.

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Kurikulum Yayasan Swasti Sari, Romo Konradus Takene, menegaskan bahwa karakter harus tetap menjadi "roh" dalam setiap proses belajar mengajar.

Kreativitas Tanpa Batas
​Kemeriahan acara memuncak saat para siswa menunjukkan bakat mereka. Mulai dari paduan suara hingga penampilan musik ansambel perkusi menggunakan barang bekas. Aksi ini menjadi bukti nyata bahwa sekolah berhasil menjadi wadah kolaborasi dan kreativitas yang hidup.

​Ketua Panitia, Jacoba, menyatakan komitmen sekolah untuk menjadikan lingkungan pendidikan sebagai "rumah" yang penuh kegembiraan, kejujuran, dan kepedulian, sesuai warisan spiritualitas St. Yohanes Don Bosko.

​Acara diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan ramah tamah—sebuah simbol syukur atas kebersamaan komunitas pendidikan dalam mencetak kader masa depan NTT yang berkualitas.

Editor: LL//gpi
​Rilis Pers: Biro Administrasi Pimpinan Setda Prov. NTT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wagub Johni Asadoma: Jangan Tunggu Sekarat, Deteksi Dini Kanker Itu Harga Mati!

KUPANG, Pena Indonesia – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, melempar peringatan keras kepada warga, khususnya kaum perempuan di NTT. Pesanny...