Pertemuan ini bukan sekadar koordinasi teknis, melainkan representasi miniatur Indonesia di Kota Kupang. Hadir di antaranya perwakilan dari K2S, KKSS, Paguyuban Sumba, Rote, Bali, Pasundan, hingga Forum Pembauran Kebangsaan (FPK).
Menenun Keberagaman dalam Satu Napas Budaya
Mengangkat tema besar "Harmoni Budaya dalam Keberagaman", panitia menegaskan bahwa perayaan Imlek kali ini bukan milik satu golongan semata. Ini adalah panggung terbuka bagi seluruh warga Kota Kasih untuk merayakan perbedaan.
"Kami ingin setiap paguyuban hadir dengan identitasnya masing-masing. Melalui stand budaya ini, pengunjung tidak hanya sekadar menikmati kuliner, tapi juga menyelami edukasi kekayaan etnis yang ada di NTT. Inilah potret toleransi yang sesungguhnya," ungkap perwakilan panitia di sela-sela pertemuan.
Animo Meluap: Kuota Stand Ditambah
Geliat ekonomi kreatif di balik festival ini pun tak terbendung. Fakta bahwa 60 kuota awal telah ludes terjual menjadi bukti nyata antusiasme pelaku usaha dan paguyuban. Merespons permintaan yang terus mengalir, panitia akhirnya memutuskan menambah 8 slot tenda ekstra demi mengakomodasi semangat partisipasi masyarakat.
Dari Kupang untuk Indonesia
Prestise Lampion Food Street Market kian mentereng setelah resmi masuk dalam Agenda Kegiatan Nasional Tahunan Kemenparekraf RI. Pengakuan ini mempertegas bahwa festival di Kupang bukan sekadar hura-hura, melainkan penggerak roda ekonomi dan magnet pariwisata yang diperhitungkan di kancah nasional.
Dengan menyatunya berbagai paguyuban dalam satu perhelatan, perayaan Imlek 2026 di Kota Kupang dipastikan akan menjadi simfoni budaya yang lebih berwarna, meriah, sekaligus pengingat bahwa di tanah ini, persaudaraan adalah nafas utama.
Editor: LL//gpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar