“Smartphone itu seperti narkoba bagi anak-anak. Terlalu banyak bermain smartphone membuat anak menjadi asosial, kecanduan, menurunkan IQ, hingga berdampak buruk pada kesehatan,” tegas Gubernur Melki dengan nada serius.
Darurat Literasi dan "Kebohongan" Akademik
Pernyataan keras tersebut bukan tanpa alasan. Gubernur menyoroti posisi NTT yang masih terpuruk di peringkat tiga terendah nasional dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA). Baginya, salah satu biang keroknya adalah rendahnya minat baca yang tergerus oleh budaya scrolling di media sosial.
Ia pun menginstruksikan para Kepala Sekolah untuk mengambil langkah ekstrem:
• Wajib Literasi: Mengembalikan tradisi membaca buku fisik di lingkungan sekolah.
• Sterilisasi Gawai: Membatasi penggunaan ponsel hanya untuk urusan kurikulum yang mendesak.
• Awasi Kecerdasan Buatan: Penggunaan AI harus dipantau ketat agar tidak mematikan daya kritis siswa.
Kejujuran adalah Harga Mati
Lebih jauh, Gubernur Melki meminta dunia pendidikan NTT untuk berhenti melakukan "kebohongan akademik". Ia menegaskan bahwa sistem pendidikan tidak boleh lagi sekadar mengejar angka kelulusan tanpa kualitas.
“Anak yang belum bisa membaca dan menulis tidak boleh terus dinaikkan kelas. Kita tidak boleh membohongi diri sendiri. Lebih baik mereka lulus sedikit lebih lama, asalkan berkualitas dan punya bekal nyata,” tambahnya.
Mencetak Generasi "Survivor"
Menutup arahannya, Gubernur mengajak seluruh sekolah di Flotim untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui program One School One Product (OSOP). Senada dengan hal itu, Bupati Antonius menekankan pentingnya pembentukan karakter Survivor.
“Pendidikan bukan hanya soal pintar secara otak, tapi tangguh secara mental. Anak-anak Flotim harus punya daya tahan, kekuatan spiritual, dan karakter yang kokoh untuk menghadapi dunia,” pungkas Bupati Antonius.
Editor: LL//gpi
Source: biro humas prov NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar