Ketua GMNI Kupang, Jacson Marcus, yang hadir bersama jajaran pengurus, menegaskan bahwa organisasi mahasiswa tidak ingin hanya menjadi penonton. Mereka menuntut peran aktif dalam Program Ina Kasih agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh perempuan di akar rumput, termasuk kelompok mahasiswa rentan.
"Isu perempuan bukan sekadar angka statistik. KDRT dan perceraian di Kupang adalah realitas pahit yang butuh intervensi radikal. GMNI siap masuk dalam sistem untuk memperluas jangkauan Program Ina Kasih," tegas Jacson dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut.
Menanggapi "todongan" kolaborasi tersebut, Serena Francis yang didampingi Kepala DP3A Kota Kupang, dr. Marsiana Y. Halek, memberikan respons taktis. Ia menegaskan bahwa Program Ina Kasih bukan sekadar proyek bagi-bagi bantuan, melainkan gerakan edukasi masif yang menyasar hulu persoalan.
“Ina Kasih itu komprehensif. Kita bicara kesehatan reproduksi, vaksinasi HPV untuk cegah kanker serviks, hingga penguatan ekonomi perempuan rentan. Tapi pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Kami butuh energi mahasiswa untuk menyosialisasikan ini,” ujar Serena.
Lebih lanjut, Serena membedah akar masalah sosial di Kupang yang menurutnya berawal dari rapuhnya kesiapan mental dan ekonomi sebelum membangun rumah tangga. Ia mendorong penguatan edukasi pranikah sebagai benteng utama mencegah perceraian dan kekerasan di masa depan.
Sebagai langkah nyata, kedua belah pihak sepakat akan menggelar Dialog Publik bertema perempuan pada momentum Hari Kartini mendatang. Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal sinergi yang tidak hanya berhenti di ruang audiensi, tetapi mendarat nyata dalam bentuk perlindungan bagi perempuan di seluruh sudut Kota Kupang.
Publik kini menanti, sejauh mana kolaborasi antara birokrasi dan aktivis ini mampu menekan angka kekerasan dan membawa perubahan nyata bagi kaum ibu dan perempuan di Kota Kasih.
Editor: Team Redaksi Garis Pena Indonesia
Sumber: Prokopim Setda Kota Kupang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar