Di bawah rintik hujan yang menyiram lahan seluas 3 hektare tersebut, Gubernur Melki tak sekadar melakukan seremonial. Ia menegaskan bahwa hujan adalah anugerah yang harus dijawab dengan kerja keras di lahan pertanian.
Target Swasembada: Bukan Sekadar Pipilan Kering
Potensi hasil panen di lokasi ini diperkirakan mencapai 15 ton jagung pipilan kering. Namun, bagi Melki, angka tersebut hanyalah awal. Ia mendorong transformasi besar dalam sektor pertanian melalui spirit "Ayo Bangun NTT".
"Ke depan, kita tidak boleh berhenti di tanam, panen, lalu jual. Kita harus bertransformasi menjadi tanam, panen, olah, kemas, baru jual. Hilirisasi adalah kunci agar nilai tambah tetap ada di tangan petani," tegas Gubernur Melki dengan lugas.
Melki juga membeberkan capaian impresif tahun 2025, di mana produksi beras NTT hampir menyentuh angka 1 juta ton Gabah Giling Kering (GKG). Tahun ini, komitmen serupa diarahkan untuk menggenjot produksi jagung guna memenuhi kebutuhan konsumsi dan pakan ternak yang kian meningkat.
Kolaborasi Strategis dan Inklusi Sosial
Keberhasilan panen di Naibonat ini merupakan buah kolaborasi apik antara Dinas Sosial, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, serta Perum Bulog sebagai offtaker.
Gubernur mengapresiasi peran Bulog yang hadir sebagai penyangga harga sekaligus penyerap hasil keringat petani. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penyerahan simbolis hasil panen kepada Bulog serta bantuan mesin pompa air kepada Kelompok Tani Tunas Harapan.
Pesan untuk Penghuni UPTD
Hal yang menyentuh adalah saat Gubernur berdialog dengan para penghuni UPTD Kesejahteraan Sosial. Ia menekankan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berinovasi.
"Seluruh anak-anak dan penghuni UPTD, tetaplah rajin belajar dan terus berproduksi. Tingkatkan kreativitas dan inovasi di bidang pertanian. Pemerintah melalui Dinas Sosial akan selalu berdiri di belakang kalian untuk memberi dukungan," pesannya memberi semangat.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pejabat penting, di antaranya Kadis Sosial NTT Kanisius Mau, Kadis Pertanian NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, serta tokoh masyarakat dan kelompok tani setempat.
EDITOR: LL//gpi
Source: biro humas prov NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar