Rabu, 04 Februari 2026

Pena yang Patah Sebelum Menulis Mimpi: Hutang Maaf Kita pada Anak di NTT


Kupang, NTT – Di selembar kertas lusuh, dengan tulisan tangan yang belum sempurna, seorang anak kelas 4 SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) menuliskan salam perpisahan terakhirnya. Bukan karena ia membenci dunia, tapi karena ia merasa dunia—dan negaranya—telah menutup pintu masa depan baginya.

​Hanya karena tak mampu membeli buku dan pena, anak ini memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang paling tragis: gantung diri.

Surat Terakhir untuk Mama

"Mama, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi... Tidak perlu Mama menangis & mencari atau merindukan saya." Kalimat itu tergores di samping gambar sosok kecil yang sedang menangis. Di usia di mana anak-anak seharusnya sibuk bermain dan mengejar cita-cita, ia justru sibuk memikirkan beban kemiskinan yang mencekik. Bagi kita, sebatang pena mungkin hanyalah recehan di kantong, namun bagi anak ini, ketiadaan pena adalah simbol kegagalan dan keputusasaan yang tak sanggup ia pikul sendiri.

Tamparan Keras bagi Bangsa

​Kematian ini bukan sekadar statistik angka kemiskinan. Ini adalah tamparan keras yang menghunjam wajah pemerintah dan kita semua.

  • Di mana kehadiran negara saat seorang anak harus menukar nyawanya hanya karena alat tulis yang harganya tak seberapa?
  • Di mana janji keadilan sosial ketika gedung-gedung megah di ibu kota dibangun dengan triliunan rupiah, sementara di pelosok NTT, seorang siswa SD merasa hidupnya tidak lagi berharga karena tidak mampu membeli buku?

​Tragedi ini membuktikan bahwa sistem pendidikan dan jaring pengaman sosial kita masih memiliki lubang yang menganga lebar. Kita terlalu sibuk dengan urusan politik besar, hingga lupa bahwa ada anak-anak yang "mati pelan-pelan" karena rasa malu dan kemiskinan di ruang-ruang kelas kita.

Kita Berutang Maaf

​Hari ini, kita semua berutang maaf. Kita berutang maaf pada sepasang mata kecil yang kini tertutup selamanya. Kita berutang maaf karena gagal menciptakan dunia yang cukup ramah untuk seorang anak kelas 4 SD bermimpi.

​Jangan biarkan kematiannya hanya menjadi berita yang lewat begitu saja. Ini adalah alarm kematian nurani jika kita tidak segera berbenah. Seharusnya, tidak boleh ada lagi anak di negeri ini yang merasa bahwa seutas tali adalah satu-satunya solusi ketika pena mereka habis.

Istirahatlah dengan tenang, nak. Di sana, semoga kamu mendapatkan buku dan pena yang takkan pernah habis untuk menuliskan kebahagiaanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wagub Johni Asadoma: Jangan Tunggu Sekarat, Deteksi Dini Kanker Itu Harga Mati!

KUPANG, Pena Indonesia – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, melempar peringatan keras kepada warga, khususnya kaum perempuan di NTT. Pesanny...